Seringkali ada beberapa pasien yang mengeluh dan bertanya, "Ustadz, kenapa syaitannya sulit keluar...?"
"Ust kenapa saya bisa gangguan jin, padahal saya tidak pernah meninggalkan shalat, saya selalu menutup aurat dan rutin zikir pagi-petang?"
Dan berbagai bentuk protes lainnya.. Sebenarnya pertanyaan seperti ini tak akan ditanyakan lagi jika sudah memahami penjelasan kami pada tulisan sebelumnya yang berjudul "Hubungan Tazkiyyatun Nafs dan Ruqyah", "Pentingnya Tazkiyyatun Nafs Dalam Ruqyah", dan "Hakikat Penyakit, Sumber, dan Obatnya".
Toyib, barangkali kita perlu menjelaskan kembali dengan metode atau pendekatan lain.. Kisah berikut ini mengandung hikmah yang besar.
_"Wahai Guru"_, adu seorang murid pada Hujjatul Islam Abu Hamid Al Ghazali,
_"Bukankah syaithan akan terusir jika kita berdzikir?"_
_"Betul Anakku"_,jawab Sang Imam.
_"Lalu ada apa denganku ini? Aku telah mencoba untuk banyak berdzikir, tapi si terkutuk itu rasanya terus datang dan datang lagi, menggangguku dengan berbagai was-was yang akrab sekali."_
Sang Guru tersenyum.
_"Bagaimana pendapatmu Anakku", ujar beliau, Tentang seorang yang berulang kali menghalau anjing buduk dari tempatnya duduk, tapi di situ dia selalu menyanding tulang, jeroan, dan daging yang amat disukai si anjing?"_
_"Pasti anjing itu selalu kembali"_, si murid menanggapi, _"Meski diusir berulang kali. Karena di sisi orang itu, masih tersaji hal yang mengundang minatnya."_
_" Begitu pula dzikir kita"_, urai Imam Al Ghazali, _"Adalah hal yang ditakuti syaithan. Ia *lari terbirit* tiap kali lisan dan hati melantunkan wirid. Tapi ia akan selalu *kembali* selama di dalam dada ini kita menyuguhkan hal-hal yang menjadi kegemarannya._"
_"Apakah itu Guru?"_
_*"Penyakit hati. Seperti sombong, tamak, dan dengki."*_
Dari kisah ini pelajaran yang dapat kita ambil, jangan-jangan bukan syaithan yang tak ingin pergi, melainkan kita yang selalu merayunya agar kembali.
Ia terpesona oleh _takabbur_ kita, dan tergoda untuk membesarkannya.
Ia terpesona oleh _kerakusan_ kita, dan tergoda untuk meraksasakannya.
Ia terpesona oleh _hasad_ kita, dan tergoda untuk meledakkannya.
Maka sungguh kita amat perlu _menyucikan jiwa_ dari kotoran-kotoran nya, agar syaithan tak berminat untuk datang kembali di saat kita mengusirnya.
Dan lebih dari itu, kita menghajatkan _bersihnya qolbu_ untuk kemesraan yang paling berharga.
Qolbu ini adalah yang senantiasa akan dilihat oleh Rabb kita Allah 'Azza wa Jalla. Jika wajah yang ditatap sesama manusia amat kita perhatikan _kecerahannya, kehalusannya, dan kesegarannya_, lalu kita rawat dengan pelembab hingga perona, maka hati yang ditatap Pencipta, Raja, dan Sesembahan manusia memerlukan perhatian lebih dalam penjelitaannya.
Benarlah Imam Hasan Al Bashri ketika menyatakan:
داوِ قلبك فإن حاجة الله إلى العباد صلاح قلوبهم
_"Obati qolbumu dari penyakit-penyakitnya. Sungguh hajat Allah SWT. kepada hamba-hambaNya adalah kesentausaan hati mereka.
✒ Akhyar al Banjary
*-BAARAKALLAHU FIIKUM*-
*-✍ PUBLISH ULANG HARI EFENDI WIJAYA*-
Salam...
*-📡 DPD QHI ( qur'anic healing indonsia) Kota Depok*-
*-☎ Konsultasi ruqyah syar'iyyah /
yang mau bergabung ke *-Group Therapi Qur'an*- silahkan ketik
nama# kota# no hp kirim ke
☎ 087775548234 (WhatsApp)
👉❌tidak lewat SMS
-
0 comments:
Post a Comment