_Dalam riwayat Ibnu Umar, Nabi pernah ditanya, “Siapakah orang yang paling dicintai Allah.” Maka beliau bersabda, “Seseorang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. ath-Thabrani)._
❄Para Ulama’ Salaf menjelaskan, “Sesungguhnya semakin banyak manfaat seorang hamba bagi saudara-saudaranya, maka akan semakin bertambah kecintaan Allah kepadanya. Dan apabila semakin berkurang, maka semakin berkurang pula kecintaan-Nya kepada hamba tersebut.”
♻Sahabat.., Terkadang kita terus berusaha menjaga: shalat sunnah, puasa sunnah, tilawah Al-Quran, dan amal-amal kebaikkan lainnya, yang semua itu hanya bermanfaat bagi satu orang saja. Tapi taukah kita bahwa ada suatu amalan yang nilainya jauh melebihi semua itu. Yaitu apabila kita mau memikirkan kesulitan orang lain, kemudian membantunya. Nabi bersabda, “Sungguh berjalannya seseorang diantara kamu untuk memenuhi kebutuhan saudaranya, lebih baik baginya daripada i’tikaf di masjidku ini selama sebulan.”
🌾Kita tahu bahwa keutamaan shalat di Masjid Nabawi pahalanya 1000 kali lipat dari shalat di masjid lainnya, seandainya seorang beri’tikaf di dalamnya pastilah pahalanya akan lebih besar lagi. Namun ternyata ada hal yang lebih utama dari itu, yaitu ketika engkau mau mencurahkan tenaga dan harta selama sehari untuk membantu hamba Allah yang kesusahan.
♻ _“Barang siapa melepaskan seorang mukmin dari kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Alloh akan melepaskan darinya kesulitan di hari kiamat.” (HR. at-Tirmidzi)._
❄Seorang salaf bernama Robi’ bin Haitsam. Suatu hari datanglah anaknya kepada Robi’ sambil membawakan halwa (makanan sejenis roti yang paling lezat di zaman itu).
❄Ketika mereka hendak memakannya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah. Kemudian Robi’ menyuruh anaknya untuk membuka pintu. Ternyata yang datang adalah seorang yang gila, ia memberi isyarat bahwa dirinya lapar, dan menunjuk hidangan di atas meja.
❄Maka Robi’ menyuruh anaknya untuk memberikan halwa tadi. Dengan rakus orang gila tersebut menghabiskan halwa yang sebenarnya oleh si anak hanya ingin diberi satu potong saja.“Ayah, tahukah anda bahwa yang datang tadi adalah orang gila, ia tidak tahu kalau makanan yang kita berikan adalah makanan lezat yang sangat jarang ada dan mahal harganya. Kenapa ayah tidak memberinya makanan lain yang kita miliki di dapur? Kenapa harus halwa yang telah dibuatkan ibu dengan susah payah?” Protes anaknya.
❄Maka ayahnya pun menjawab, “Wahai anakku, boleh jadi orang tersebut tidak mengerti nilai makanan yang kita berikan, tapi siapa yang berani menjamin bahwa Allah juga tidak mengetahui nilai makanan tersebut. Bukankah kita tidak mengharapkan balasan kecuali dari Allah?"
🌾 _“Kamu sekali-kali tidak sampai kepadakebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali Imron: 92)._
Sahabat, terkadang kita lebih mengutamakan diri sendiri, dan terkadang tidak memberikan kepada orang lain kecuali sesuatu yang sudah tidak kita sukai. Semoga kisah di atas bisa mengetuk hati kita dalam berbuat baik, memberi manfaat untuk orang lain.😔🌱🍃🎋🌴🍂
0 comments:
Post a Comment