بسم الله الرحمن الرحيم
كتاب الصوم
باب قَضَاءِ رَمَضَانَ فِى شَعْبَانَ.
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَقُولُ كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلَّا فِي شَعْبَانَ الشُّغْلُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
(رواه مسلم)
*Artinya:*
Dari Abu Salamah, dia berkata, "Aku pernah mendengar Aisyah RA (w. 57 H) berkata, 'Aku pernah mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, sedangkan aku tidak bisa mengqadhanya kecuali pada bulan Sya'ban, karena ada kesibukan dari Rasulullah (dengan Rasulullah).
HR. Muslim (w. 261 H.)
*Istifadah:*
Di dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya mengundurkan qodho’ Ramadhan baik mengundurkannya karena ada udzur atau pun tidak. Maksudnya tidak mesti dilakukan setelah bulan Ramadhan yaitu di bulan Syawal. Namun boleh dilakukan di bulan Dzulhijah sampai bulan Sya’ban, asalkan sebelum masuk Ramadhan berikutnya. Dalam hal ini sayyidah ‘Aisyah pernah menunda qodho’ puasanya sampai bulan Sya’ban, akan tetapi yang dianjurkan adalah qodho’ puasa Ramadhan disegerakan dan tidak ditunda-tunda.
*[Lembaga Kajian dan Riset Rasionalika Darus-Sunnah]*
0 comments:
Post a Comment