✍Rasulullah صلى الله عليه وشلم bersabda,
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada setiap mereka ada kebaikannya. Bersemangatlah kamu untuk melakukan apa yang bermanfaat buatmu dan minta tolonglah kepada Allah dan jangan bermalas-malasan. Jika kamu ditimpa oleh sesuatu musibah, janganlah kamu mengatakan: ‘Kalau saya melakukan (demikian dan demikian), niscaya terjadi demikan dan demikian.' Akan tetapi katakanlah: ‘Semuanya telah ditaqdirkan oleh Allah dan Allah berbuat sesuai dengan kehendak-Nya.' Karena kata ‘seandainya' akan membuka pintu setan." ( HR Muslim. 4816)
Ketika semua unsur ini (semangat, tidak bermalas-malasan dan meminta pertolongan kepada Alloh) sudah terpenuhi pada diri seorang muslim, maka itu adalah kesempurnaan baginya dan sebagai tanda kesuksesannya. Namun, ketika dia meninggalkan salah satu dari tiga perkara ini, maka dia akan kehilangan kebaikan seukuran dengan perkara yang ditinggalkannya.
Orang yang tidak bersemangat dalam meraih dan melakukan hal-hal yang bermanfaat, bahkan bermalas-malasan, maka dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Karena malas itu sumber kegagalan. Orang yang malas tidak akan mendapatkan kebaikan dan kemuliaan. Orang yang malas tidak akan bernasib baik dalam agama dan dunianya.
Dan ketika dia semangat, tetapi bukan pada hal-hal yang bermanfaat, seperti bersemangat pada sesuatu yang membahayakan dan menghilangkan kebaikan, maka ujung dari semangatnya itu adalah kegagalan, kehilangan kebaikan, mendapatkan keburukan dan kerugian.
Jika ada orang menempuh jalan-jalan yang bermanfaat, bersemangat dan bersungguh-sungguh padanya, namun tidak disertai dengan keseriusannya dalam memohon pertolongan kepada Allâh, maka hasil yang akan dipetiknya tidak maksimal. Jadi benar-benar bersandar kepada Allâh dan memohon pertolongan kepada-Nya bertujuan agar bisa mendapatkan perkara yang bermanfaat itu secara maksimal. Orang seperti ini tidak hanya bertumpu pada dirinya, kedudukannya dan kekuatannya, tetapi ia bertumpu sepenuhnya kepada Allâh.
Sehingga Allâh akan memudahkan urusannya, memudahkan segala kesulitannya, menghilangkan kesedihannya, memberikan hasil akhir yang baik dalam urusan agama dan dunianya.
Seorang mukmin sangat dituntut untuk mengetahui hal-hal bermanfaat yang harus dilakukan dengan penuh semangat dan serius berdasarkan ilmu untuk beramal sholih.(artikel Ust. Yazid di As-Sunnah)
Oleh karena itu Nabi telah memerintahkan orang Mukmin agar bersungguh-sungguh dalam melakukan apa-apa yang bermanfaat baginya dan agar menjadikan Allah sebagai pelindung.
Hal ini sejalan dengan firman-Nya,
فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ
“Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya.” (Huud: 123)
Sesungguhnya berupaya sekuat tenaga untuk mendapatkan hal-hal yang bermanfaat bagi hamba merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan bentuk peribadahan kepada-Nya. Karena yang dapat memberikan manfaat kepadanya adalah ketaatan kepada Allah. Tiada sesuatupun yang lebih bermanfaat baginya daripada hal tersebut. Jadi, segala sesuatu yang dapat dijadikan sarana untuk menjalankan ketaatan, hal itu merupakan bentuk ketaatan pula. Kendati hal itu adalah suatu perkara yang mubah.
Rasulullah berkata kepada Sa’ad,
وَ لَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلاَّ أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى الْلُقْمَة تَجْعَلُهَا فِي فِيِّ امْرَأَتِكَ
“Tidaklah engkau menafkahkan satu nafkah yang dengannya engkau mengharap wajah Allah kecuali engkau akan diberi pahala dengannya sampaipun satu suapan yang engkau berikan ke mulut istrimu." (HR Bukhari, 56)
Rasululloh صلى الله عليه وسلم telah mengkabarkan bahwa Allah mencela al-ajzu (bermalas-malasan), yang merupakan lawan dari al-kais (rajin semangat).
Karena sifat al-ajzu artinya tidak menjalankan apa-apa yang diperintahkan sebagaimana mestinya, karena hal itu akan menafikan kesanggupan untuk melakukan suatu amalan. Sesungguhnya kesanggupan akan melahiran amalan dan yang menjadi pengiring amalan tersebut.
Isti'anah kepada Allah, bertawakkal, dan berdoa kepada-Nya merupakan perkara-perkara yang bisa menjadikan seseorang menjadi kuat serta meringankan masalah-masalah yang dihadapinya. Oleh karena itu sebagian salafush shalih mengatakan, "Barangsiapa ingin menjadi manusia yang paling tegar (kuat) hendaknya ia bertawakkal kepada Allah."
Oleh karena itu diriwayatkan pula bahwa para malaikat yang menjunjung ‘Arsy, mereka mampu untuk menjunjungnya karena mereka mengucapkan "ﻻ حول وﻻ قوة إﻻ بالله".
Allah berfirman,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (ath-Thalaaq: 3)
Dan Allah berfirman,
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (Ali Imran: 173)
🍃[Disalin dari kitab at-Tuhfah al-‘Iraqiyyah fii al-A'maal al-Qalbiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Edisi Indonesia Amalan-Amalan Hati dan Jenisnya]
🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc
🌻🌿🌷🌹🍀.🌺
0 comments:
Post a Comment