Kompilasi tentang islam

Tuesday, February 28, 2017

Fitnah Dajjal

Tidak ada yang mengingkari bahwa fitnah Dajjal adalah fitnah besar sepanjang perjalanan hidup Bani Adam di atas dunia ini sampai pada hari kiamat. Hal ini disebabkan berbagai bentuk keanehan yang diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bisa diperbuat oleh Dajjal tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam banyak riwayat. Dua fitnah yang sesungguhnya diusung oleh Dajjal untuk merekrut pengikut itulah fitnah syahwat dan fitnah syubuhat. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa fitnah besar Dajjal terhadap umat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

1. Bersama Dajjal ada surga dan neraka

Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2934) dari sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى جُفَالُ الشَّعَرِ مَعَهُ جَنَّةٌ وَنَارٌ فَنَارُهُ جَنَّةٌ وَجَنَّتُهُ نَارٌ

“Dajjal adalah buta sebelah kiri, sangat keriting rambutnya, dan bersamanya surga dan neraka. Namun nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka.”

2. Bersamanya ada sungai-sungai yang penuh air

Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu (no. 2934) dari shahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا مَعَ الدَّجَّالِ، مِنْهُ مَعَهُ نَهْرَانِ يَجْرِيَانِ أَحَدُهُمَا رَأْيَ الْعَيْنِ مَاءٌ أَبْيَضُ وَاْلآخَرُ رَأْيَ الْعَيْنِ نَارٌ تَأَجَّجُ فَإِمَّا أَدْرَكَنَّ أَحَدٌ فَلْيَأْتِ النَّهْرَ الَّذِي يَرَاهُ نَارًا وَلْيُغَمِّضْ ثُمَّ لْيُطَأْطِئْ رَأْسَهُ فَيَشْرَبَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مَاءٌ بَارِدٌ، وَإِنَّ الدَّجَّالَ مَمْسُوْحُ الْعَيْنِ عَلَيْهَا ظَفَرَةٌ غَلِيْظَةٌ مَكْتُوْبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ كَافِرٌ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٍ وَغَيْرِ كَاتِبٍ

“Sesungguhnya aku mengetahui apa yang menyertai Dajjal. Yaitu, bersamanya ada dua sungai yang mengalir. Dengan penglihatan mata, salah satunya adalah air yang putih dan yang lain api yang berkobar. Maka barangsiapa menjumpai yang demikian hendaklah dia mendatangi sungai yang dia lihat sebagai api dan pejamkan matanya kemudian tundukkan kepalanya dan minumlah darinya, karena sesungguhnya itu adalah air yang dingin. Sesungguhnya Dajjal buta dan pada matanya ada daging tumbuh yang tebal serta tertulis di antara dua matanya kafir, yang akan dibaca oleh setiap orang yang beriman baik yang bisa menulis atau tidak.”

3. Memerintahkan langit untuk menurunkan hujan dan bumi menumbuhkan tanamannya

Read More

Nilai Ibadah dari Kesulitannya

Seorang pria bangun pagi-pagi untuk melaksanakan
ibadah shalat subuh.

Setelah mengenakan pakaiannya,
dia berangkat ke Masjid.

Dalam perjalanannya ke Masjid, pria tersebut terjatuh dan pakainnya menjadi kotor..
Dia bangun, membersihkan diri, lalu kembali pulang.

Sesampainya di rumah, dia mengganti pakaiannya,
lalu berangkat kembali ke Masjid.

Dalam perjalanannya
ke Masjid, pria tersebut terjatuh kembali di tempat yang sama!
Lalu dia kembali bangun, membersihkan diri, dan pulang kembali.
Sesampainya di rumah, Sekali lagi, dia mengganti pakaiannya, lalu berangkat kembali ke Masjid.

Dalam perjalanan ke Masjid, dia bertemu seorang kakek tua yang memegang lampu.

Dia bertanya pada kakek
tersebut dari mana dia dan kakek itu menjawab
“Aku melihatmu terjatuh dua kali dalam perjalananmu ke Masjid, jadi aku membawakan lampu untuk menerangi jalanmu.

Pria yang pertama tadi mengucapkan terimakasih banyak pada kakek yang membawakannya lampu, dan keduanya berjalan bersama ke Masjid.

Setibanya di Masjid, pria yang pertama tadi
mengajak kakek yang membawa lampu untuk shalat berjamaah dengannya. Kakek tersebut menolaknya.

Pria pertama terus mengajaknya beberapa kali lagi,
dan jawabannya tetap sama.

Pria itu bertanya mengapa dia tidak mau shalat bersamanya.

Kakek dengan lampu itu menjawanb, “Aku adalah *iblis*”.

Pria itu terkejut mendengar jawabannya.

Iblis kemudian melanjutkan, “Aku melihatmu menuju ke Masjid dan akulah yang membuatmu terjatuh.

Ketika kau pulang, membersihkan diri dan berangkat kembali ke Masjid, Allah telah mengampuni semua dosamu.

Aku menjatuhkanmu sekali lagi, tapi kau tidak
tinggal di rumah, dan tetap berangkat kembali ke Masjid.

Karena itu, Allah mengampuni semua dosa orang-orang yang tinggal dirumah mu.

Aku khawatir jika aku menjatuhkanmu lagi, Allah akan mengampuni dosa dosa orang  sekampungmu, jadi aku
memastikan kau sampai di Masjid tanpa terjatuh.

Subhaanallah....

”Janganlah kau membatalkan niat baik yang akan kau lakukan karena kau tidak pernah tau ganjaran apa yang mungkin akan kau dapat dari beratnya rintangan
yang kau hadapi ketika berusaha melaksanakannya.

Karena kebaikanmu bisa menyelamatkan keluarga dan bangsamu"
Mahasuci Allah dalam kemuliaannya.

Ketika kau membawa Quran. Setan akan pusing. Ketika kau membacanya, dia tersungkur.
Ketika dia melihatmu membacanya, dia pingsan.

Ketika dia melihatmu menjiwai apa yang kau baca, dia kabur.

Dan ketika kau akan memosting ulang pesan ini, dia akan membuatmu ragu....

Silahkan di share.... 😊
Semoga bermanfaat 🙏

Read More

Ibadah yang asal-asalan

Seorang tukang bangunan yang telah bertahun-tahun lamanya bekerja ikut pemborong.
Bermaksud mengajukan pensiun karena ingin memiliki banyak waktu untuk keluarganya.

Si Pemborong berkata,
"Saya setujui permohonan pensiun Anda dengan syarat Anda bangun dahulu satu rumah terakhir sebelum Anda pensiun".

Si tukang bangunan segera membangunnya. Karena kejar tayang, ia pun mengerjakannya asal-asalan dan asal jadi.

Selesai sudah bangunan terakhir yang ia buat. Ia serahkan kunci rumah kepada sang Pemborong.

Sang Pemborong pun. tersenyum dan berkata, "Rumah ini adalah hadiah untukmu, karena telah lama bekerja bersamaku."

#Terkejutlah tukang bangunan itu, ada rasa sesal kenapa rumah, yang akhirnya hendak ia tempati itu, dikerjakannya secara asal-asalan.

Ibadah yang kita kerjakan
di dunia ini, tak lain adalah 'rumah' yang sedang kita bangun untuk kita tempati nanti setelah pensiun dari kehidupan dunia.

Jangan sampai kelak kita menyesa karena kita menempati rumah  yang kita bangun asal-asalan.

Read More

Hak muslim atas muslim lainnya


Sahih al-Bukhori:1164

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ: رَدُّ السَّلاَمِ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ، وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ.

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda:

Hak muslim atas muslim lainnya ada lima, yaitu: Menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin.

Pesan :
1. Hak muslim atas muslim lainnya, yang berarti setiap muslim wajib melakukan 5 hal ini untuk saudaranya yang muslim.
2. Kewajiban menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan yang bersin.

via Satu Hari Satu Hadis

http://www.instagram.com/mudahberbagi_official

#mudahberbagi

Read More

Menengok Sejarah Fathul Makkah


Pelajaran penting bagi generasi muda bangsa Indonesia..
Bahwa negara Indonesia dibangun berdasarkan ikatan persaudaraan, persatuan, perbedaan dalam keberagaman.

Al-Qur’an sendiri bermuatan:
Memerintahkan....
Menganjurkan....
Mengajarkan...

Sebagai bangsa (nation ), kita bersatu, berdamai, tidak ada lagi permusuhan antar bangsa dengan mengatasnamakan ras, etnis, agama, dan suku. Karena para penjajah sudah terusir 72 tahun silam. Justru musuh terbesar kita saat ini adalah ego, hawa nafsu, serta merasa benar sendiri.

Sebagaimana sabda nabi sesusai Perang Badr:
قال صلى الله عليه وسلم: قدمتم خير مقدم، من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر. قالوا: وما الجهاد الأكبر؟ قال: مجاهدة العبد هواه

Rasulullah berkata: “Kalian menuju kepada tujuan yang terbaik. Kalian menuju dari dari jihad yang lebih kecil kepada jihad yang lebih besar.” Mereka bertanya: “Apa itu jihad yang lebih besar?” Nabi menjawab: “Perjuangan seorang hamba melawan hawa nafsunya.”

Dalam Sejarah Fathul Makkah, Nabi menganjurkan untuk menjadi pribadi yang memaafkan segala kesalahan. Di Masjidil Haram seusai Fathul Makkah (terbebasnya kota Makkah dari kaum musyrikin), Nabi Saw menyampaikan  khutbah di depan pintu Ka’bah dan di hadapan sekian banyak orang bahwa masjid adalah tempat yang aman.

Dalam khutbahnya, nabi bersaksi bahwa; “Tiada Tuhan selain Allah, Tiada sekutu bagi-Nya, Dia menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya, dan Dia sendiri yang mengalahkan sekutu”. Beliau kemudian menetapkan pembatalan segala keistimewaan yang dimiliki oleh siapa pun pada masa jahiliyah.
Rasul saw kemudian membaca firman Allah QS Al-Hujurat  49: 13.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Rasul Saw kemudian mengarahkan pembicaraan beliau kepada kaum musyrik yang harap-harap cemas. Beliau bertanya:
“Apa yang kalian duga yang akan Aku lakukan terhadap kalian?
“kami menanti yang baik. Engkau adalah saudara yang mulia dan putra saudara yang mulia,”jawab mereka.

“Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu , mudah-mudahan Allah mengampuni kamu! Kalian boleh pergi—kemana pun—kalian adalah orang-orang bebas.

Nabi saw berucap: nashbir wa laa nu’aqib. Kami bersabar dan kami tidak akan memberi sanksi. (HR. Ahmad).

Dalam piadatonya kepada ribuan tawanan perang, Rasulullah bersabda: “Hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah, wa antumut thulaqo”. Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing-masing.

Melihat khutbah nabi, umat Islam diperintahkan untuk:
1. Saling maaf-memaafkan
2. Menjaga tali persaudaraan dan persatuan
3. Menghargai keberagaman sebagai hamba dan ciptaan Tuhan

Umat Islam menjadi kuat karena:
1. Tidak gila kekuasaan dan duniawi
2. Mengalahkan ego pribadi demi kepentingan umum
3. Menghilangkan fanatik buta dan kebodohan

Kita bisa membayangkan Indonesia saat ini jika bangsa ini terpecah belah dan terjadi pertumpahan darah antar sesama saudara. Bukankah persatuan itu jauh lebih utama?

Maka, wahai pemuda Islam ayo semangat belajar, jangan fanatik buta dan memusuhi dengan cara membabi buta.

*KUNCI KEMENANGAN DAKWAH NABI*

Pelajari kunci kemenangan dan dakwah nabi dalam sejarah Fathul Makkah adalah mencintai sesama dengan rasa kasih sayang.

Mengingatkan kaum muslimin muslimah bahwa
1. Al-QUR’AN MEMERINTAHKAN
Menjaga persatuan itu penting
QS. Ali Imron 103

2. AL-QUR’AN MENGAJAK
Saling memaafkan, karena Allah menyukai orang yang berbuat kebajikan
QS. Annur 22
QS. Al A’raf 199
QS. Ali Imron 159
QS. Ali Imron 134

3. AL-QUR’AN MELARANG
Permusuhan dan berpecah belah
QS. Ali Imron 105

Ya Allah, Ya Robb, Ya Tuhan kami, jadikanlah bangsa ini tentram, penuh kedamaian, kesejukan dan mempunyai kepekaan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan. Hindarkanlah kami dari fitnah dan sifat hasud yang dapat memecah belah kami. Kami memohon ampun serta berlindung hanya kepadaMu Ya Robbal Aalamiin.

والله أعلم بالصواب

Ayo share sebanyak-banyaknya, agar kita menjadi bangsa yang sadar betapa pentingnya persatuan dan ikatan tali persaudaraan untuk kemajuan bangsa.

Read More

Biografi Nabi Muhammad SAW


```40 Pelajaran Dari Nabi Muhammad SAW.```
*--------------------------------------*

01. Jangan tidur antara fajr dan Ishraq, Asr dan Maghrib, Maghrib dan Isha.
--------------------------------------
02.hindarkan duduk dengan orang yg bau badan. Contoh (bawang)
--------------------------------------
03. Jangan tidur dekat orang yg bicara buruk sebelum tidur.
--------------------------------------
04. jangan makan dan minum dengan tangan kiri.
--------------------------------------
05. Jangan makan makanan yg dikeluarkan dr gigimu.
--------------------------------------
06.Jangan membunyikan sendi² jari.
--------------------------------------
07. periksa sepatumu sebelum memakainya.
--------------------------------------
08. Jangan memandang ke langit ketika shalat.
--------------------------------------
09. Jangan meludah dalam toilet.
--------------------------------------
10. jangan bersihkan gigi dengan arang.
--------------------------------------
11. Duduk/jongkok baru kenakan celana.
--------------------------------------
12.  jangan patahkan benda keras dengan gigimu.
--------------------------------------
13. Jangan meniup makananmu ketika panas tapi kamu boleh mengipasinya.
--------------------------------------
14. Jngan melihat kesalahan orang lain.
--------------------------------------
15. jangan berbicara antara iqamah dan adhan.
--------------------------------------
16. Jangan bicara dalam toilet.
--------------------------------------
17. jangan membicarakan keburukan temanmu.
--------------------------------------
18. Jangan membuat temanmu marah
--------------------------------------
19. Jgn sering melihat ke belakang ketika berjalan.
--------------------------------------
20. Jgn hentakkan kakimu saat berjalan.
--------------------------------------
21. Jgn curigaan pada temanmu.
--------------------------------------
22. Jgn pernah berdusta.
--------------------------------------
23. jgn membaui makanan saat memakannya.
--------------------------------------
24. bicara yg jelas agar org lain bisa memahami.
--------------------------------------
25. Hindari bepergian sendirian.
--------------------------------------
26. Jgn memutuskan sendiri namun berkonsultasilah dengan orang yg tahu.
--------------------------------------
27. Jangan bangga diri.
--------------------------------------
28. Jgn sedih dgn makananmu.
--------------------------------------
29. Jgn besar mulut.
--------------------------------------
30. Jgn mengusir pengemis.
--------------------------------------
31. Layani tamumu dengan baik dengan sepenuh hati.
--------------------------------------
32. Sabar ketika dalam kemiskinan.
--------------------------------------
33. Bantulah perkara kebaikan.
--------------------------------------
34. Pikirkanlah kesalahanmu dan bertaubatlah.
--------------------------------------
35.  Berbuat baiklah kepada orang yg berlaku jahat padamu.
--------------------------------------
36. Qana'ah
--------------------------------------
37. Jgn tidur terlalu sering- menyebabkan pikun.
--------------------------------------
38. Bertaubatlah minimal 100 kali sehari (Istighfaar).
--------------------------------------
39. Jgn makan dalam keadaan gelap.
--------------------------------------
40. jgn makan sepenuh-penuh mulut.
--------------------------------------
Kirim ke yg lain untuk mengingatkan mereka.
--------------------------------------
semoga Allah merahmatimu.. Aamiin..
--------------------------------------
cinta itu nyata
--------------------------------------
Kenapa kita tertidur ketika di masjid, namun bisa tetap terjaga saat menghadiri pesta?
--------------------------------------
Kenapa begitu susah untuk berkomunikasi dengan Allah namun begitu mudah bergosip?
--------------------------------------
Kenapa begitu mudah mengabaikan pesan ilahiah namun mudah memforward pesan yg tidak berfaidah?
--------------------------------------
Apakah anda akan mengirim ke teman2 atau mengabaikannya?
--------------------------------------
Allah berfirman:"jika engkau menolakku di hadapan teman2mu. Aku akan menolakmu di hari kebangkitan"
--------------------------------------
apabila tiap muslim mengucapkan *astaghfirullah wa atubu ilaih..* 3 times sekarang dan forward, dalam beberapa detik milyaran akan mengucapkannya dan anda tidak akan rugi maka teruskanlah..

Read More

Fadhilah dan faedah Sholawat Kubro


Adapun fadhilah dan khasiyat sholawat Kubro itu besar dan banyak sekali , yang diantaranya barang siapa yang membaca secara istiqomah sehari satu kali , insya Allah orang tersebut akan diberi pahala dan kenikmatan yang besar sekali dari Allah, yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar telinga orang dan belum pernah terlintas di benak seseorang. Dan juga akan mendapat ketentraman hati cukup sandang pangan serta dikabulkan hajatnya.

Sholawat Kubro dinukil dari Alfiyatusholawat yang dihimpun oleh Syaich Muslih bin Abdurrahman Al-Muraqy, dan sholawat itu dinamakan Sholawat Kubro, menurut beliau fadhilah sholawat ini yaitu baik sekali bagi orang yang sedang menunaikan Ibadah Haji ke Mekah dan Madinah untuk memperbanyak membaca sholawat Kubro itu di mana saja yang pantas. Lebih-lebih di waktu ziarah ke makam Rasulullah saw, maka sangat dianjurkan sekali agar segala maksud dan tujuannya yang baik dapat dikabulkan, hajinya menjadi haji yang mabrur, umrahnya menjadi umrah yang diterima oleh Allah SWT, dengan sebab berkah sholawat dan dengan sebab syafaat Nabi Muhammad saw.

Itulah sholawat yang dinisbatkan pada waliyullah Imam Junaid Al-Bagdadi.

 

Wallahu A’lam

Read More

TUJUH BELAS PERTAHANAN DIRI DARI GANGGUAN SETAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

✅ Seorang hamba selayaknya membentengi diri dari gangguan setan dengan pertahanan yang telah dijelaskan dalam Al-Quran dan hadits-hadits shahih berupa doa dan dzikir. Karena Al-Qur'an dan Al-Hadits adalah penawar, rahmat, petunjuk serta perlindungan dari kejahatan di dunia dan akhirat dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.

✅ Diantara bentuk pertahanan tersebut adalah:

➡ Pertahanan Pertama: Isti'adzah (meminta perlindungan) kepada Allah Yang Maha Besar (yaitu dengan membaca: A'uzubillah).

Allah telah memerintahkan Rasul-Nya untuk memohon perlindungan kepada-Nya dalam setiap kondisi, khususnya saat hendak membaca Al-Qur'an, saat marah, saat was-was dan saat bermimpi buruk. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٞ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fushshilat: 36)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ إِنَّهُۥ لَيۡسَ لَهُۥ سُلۡطَٰنٌ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ

"Apabila kamu membaca Al-Qur'an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya.” (QS. An Nahl: 98–99)

➡ Pertahanan Kedua: Membaca bismillah. Bismillah menghalangi setan ikut serta saat makan, minum, bersenggama, masuk rumah dan seluruh kondisinya,

عن جابر قال: سمعت رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يقول: (إذا دخل الرجل بيته، فذكر اللَّه –تعالى- عند دخوله، وعند طعامه، قال الشيطان لأصحابه: لا مبيت لكم ولا عشاء، وإذا دخل فلم يذكر اللَّه –تعالى- عند دخوله، قال الشيطان: أدركتم المبيت، وإذا لم يذكر اللَّه –تعالى- عند طعامه، قال: أدركتم المبيت والعشاء) رَوَاهُ مُسلِمٌ

Dari Jabir radhiyallahu’anhu, beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seorang lelaki memasuki rumahnya lalu mengucapkan "bismillah" ketika masuk dan ketika makan, maka setan berkata kepada teman-temannya: “Kalian tidak mendapatkan tempat menginap dan makan malam”, namun apabila ia masuk rumahnya dan tidak mengucapkan "bismillah" maka setan berkata: “Kalian mendapatkan tempat menginap”, lalu apabila ia tidak mengucapkan "bismillah" ketika makan, setan berkata: Kalian telah mendapatkan tempat menginap dan makan.” [HR. Muslim]

عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (لو أن أحدكم إذا أتى أهله؛ قال: بِسْمِ اللَّهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا؛ فقضي بينهما ولد؛ لم يضره الشيطان أبدا) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Jika salah seorang kalian mendatangi isterinya (bersetubuh) lalu ia mengucapkan,

بِسْمِ اللَّهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

(Bismillaah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari rezeki (anak) yang akan Engkau berikan kepada kami), maka jika ditakdirkan dari hubungan tersebut lahirnya seorang anak baginya, niscaya setan tidak akan bisa menimpakan kemudharatan anak itu selamanya.” [Muttafaq ’alaih]

➡ Pertahanan Ketiga: Membaca mu'awwidzatain saat hendak tidur, setelah shalat, saat sakit dan lain-lain. Mu'awwidzatain adalah surat Al-Falaq dan An-Naas:

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai subuh.” (QS. Al-Falaq: 1) dan seterusnya sampai akhir surat.

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ

“Katakanlah: "Aku berlidung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia.” (Q.S. An-Naas: 1) dan seterusnya sampai akhir surat.

عن عقبة بن عامر قال: بينا أنا أسير مع رسول الله صلى الله عليه وسلم بين الجحفة والأبواء إذ غشيتنا ريحوظلمة شديدة، فجعل رسول الله صلى الله عليه وسلم يتعوذ بـ﴿قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ﴾و﴿قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ﴾ ويقول: ((يا عقبة تعوذ بهما، فما تعوذ بهما متعوذ بمثلهما)) قال: وسمعته يؤمنا بهما في الصلاة. أخرجه أحمد وأبو داود

Dari Uqbah bin 'Amir radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Saat aku berjalan bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam antara Juhfah dan Abwa', malam itu angin bertiup kencang dan gelap gulita. Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memohon perlindungan kepada Allah dengan membaca surat Al-Falaq:

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh.” (QS. Al-Falaq: 1) dan seterusnya sampai akhir surat.

Dan surat An-Naas:

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ

“Katakanlah: Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.” (QS. An Naas: 1) dan seterusnya sampai akhir surat.

Lalu beliau bersabda: Wahai Uqbah mohonlah perlindungan kepada Allah dengan membaca dua surat tersebut, karena tidak ada cara berlindung yang menyamai keduanya."

Uqbah berkata: "Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam membacanya saat mengimami shalat.” [HR. Ahmad dan Abu Daud]

➡ Pertahan Keempat: Membaca ayat Al-Kursy,

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Berdasarkan hadits:

عن أبي هريرة قال: وكلني رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بحفظ زكاة رمضان، فأتاني آت فجعل يحثو من الطعام فأخذته فقلت: لأرفعنك إلى رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فقال: إذا أويت إلى فراشك فاقرأ آية الكرسي:﴿ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ.....﴾؛ فإنك لن يزال عليك من اللَّه حافظ، ولا يقربك شيطان حتى تصبح ... قال النبي صلى الله عليه وسلم: (أما إنه قد صدقك، وهو كذوب، ذاك شيطان). رواه البخاري

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mempercayakanku menjaga harta zakat bulan Ramadhan, lalu ada seseorang yang datang mencuri makanan maka aku menangkapnya dan berkata: “Demi Allah, engkau akan kuadukan kepada Rasulullah”, ia berkata: “Bila engkau hendak berada di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al-kursiy:

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ

(Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (mahluk-Nya)...dan seterusnya hingga akhir ayat, sesungguhnya jika engkau membacanya maka engkau akan selalu berada di dalam penjagaan Allah, dan setan tidak akan mendekatimu hingga waktu pagi”, maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya dia berkata jujur kepadamu dalam hal ini, sedang dia adalah seorang pendusta, itulah setan.” [HR. Al-Bukhari]

➡ Pertahanan Kelima: Membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah yaitu:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)

“Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): "Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".” [Al-Baqoroh: 285-286]

Berdasarkan hadits:

عن أبي مسعود البدري قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من قرأ بالآيتين من آخر سورة البقرة في ليلة كفتاه) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Dari Abu Mas’ud Al-Badri radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah di suatu malam, maka itu mencukupinya.” [Muttafaq ’alaih]

➡ Pertahanan Keenam: Membaca surat Al-Baqarah,

عن أبي هريرة أن رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قال: (لا تجعلوا بيوتكم مقابر إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة) أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: "Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya setan lari dari rumah yang di dalamnya dibaca surat Al-Baqarah." [HR. Muslim]

➡ Pertahanan Ketujuh: Banyak berzikir, membaca Al-Quran, bertasbih, bertahmid, bertakbir dan bertahlil,

عن أبي هريرةأن رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قال: (من قال لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، في يوم مائة مرة كانت له عدل عشر رقاب، وكتبت له مائة حسنة، ومحيت عنه مائة سيئة، وكانت له حرزاً من الشيطان يومه ذلك حتى يمسي، ولم يأت أحد بأفضل مما جاء به؛ إلا رجل عمل أكثر من ذلك) متق عليه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang mengucapkan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

(Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan adalah milik-Nya, dan bagi-Nya segala pujian dan Dia berkuasa terhadap segala sesuatu) dalam satu hari seratus kali, niscaya diberikan baginya pahala sebanding dengan memerdekakan sepuluh orang budak, dan ditulis untuknya seratus kebajikan, dihapuskan darinya seratus keburukan, dan ia terlindungi dari setan di hari itu hingga sore dan tidak seorang pun yang lebih utama daripada dirinya kecuali seseorang yang mengamalkan lebih banyak darinya.” [Muttafaq alaih]

➡ Pertahanan Kedelapan: Membaca do'a saat keluar rumah,

عن أنس بن مالك أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (إذا خرج الرجل من بيته فقال: بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. يقال له: هديت وكفيت ووقيت، فتنحى له الشيطان، فيقول له شيطان آخر: كيف لك برجل قد هدي وكفي ووقي). رواه أبو داود والترمذي

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seseorang keluar dari rumahnya lalu mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

(Bismillah aku bertawakal kepada Allah dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah) akan dikatakan kepadanya “Engkau telah ditunjuki, telah dicukupi, dan telah dijaga. Setan pun menjauh darinya, dan setan yang lain berkata kepada setan yang berusaha menggodanya: Bagaimana mungkin engkau bisa menggoda seseorang yang telah ditunjuki, telah dicukupi, dan telah dijaga.” [HR Abu Daud, Tarmizi]

➡ Pertahanan Kesembilan: Berdo'a saat berada di suatu tempat,

عن خولة بنت حكيم قالت سمعت رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يقول: (إذا نزل أحدكم منزلاً فليقل: أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، فإنه لا يضره شيء حتى يرتحل منه) رَوَاهُ مُسلِمٌ

Dari Khaulah binti Hakim radhiyallahu’anha berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang kamu berada di suatu tempat maka ucapkanlah:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

(Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan mahluk-Nya), niscaya dia tidak akan terkena gangguan apa pun sampai dia meninggalkan tempat tersebut.” [HR. Muslim]

➡ Pertahanan Kesepuluh: Menahan menguap dan meletakkan tangan di mulut ketika menguap,

عن أبي سعيد الخدري قال: قال رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: (إذا تثاءب أحدكم؛ فليمسك بيده على فيه؛ فإن الشيطان يدخل) رَوَاهُ مُسلِمٌ

Dari Abu Sa'id Al Khudri radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang kalian menguap, maka tahanlah dengan meletakkan tangan pada mulut karena sesungguhnya setan berusaha masuk.” [HR. Muslim]

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (التثاؤب من الشيطان، فإذا تثاءب أحدكم فليكظم ما استطاع) متفق عليه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Menguap itu penyebabnya adalah setan, maka apabila salah seorang kamu menguap hendaklah menahan semampunya.” [Muttafaq alaih]

➡ Pertahanan Kesebelas: Adzan,

عن أبي هريرة أن رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قال: (إذا نودي بالصلاة، أدبر الشيطان، وله ضراط حتى لا يسمع التأذين، فإذا قضي النداء، أقبل حتى إذا ثوب للصلاة أدب، حتى إذا قضي التثويب، أقبل حتى يخطر بين المرء ونفسه، يقول: اذكر كذا! واذكر كذا! لما لم يذكر من قبل، حتى يظل الرجل ما يدري كم صلى؟!) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Bila adzan shalat dikumandangkan setan lari dengan mengeluarkan kentut agar ia tidak mendengar suara adzan, dan apabila adzan selesai dikumandangkan setan datang kembali, hingga apabila iqomat dikumandangkan setan kembali lari hingga apabila iqomat selesai setan datang lagi kemudian mengganggu pikiran orang yang sedang shalat, dia berkata: “Ingat ini, ingat itu”, sesuatu yang tidak ia ingat sebelum sholat, hingga akhirnya dia tidak tahu lagi berapa rakaatkah dia shalat.” [Muttafaq ’alaih]

➡ Pertahanan Keduabelas: Membaca do'a memasuki masjid,

عن عقبة قال: حدثنا عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه كان إذا دخل المسجد قال: (أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ) قال: أقط؟ قلت: نعم، قال: فإذا قال ذلك قال الشيطان: حفظ مني سائر اليوم. أخرجه أبو داود

Dari Uqbah radhiyallahu’anhu, ia berkata: Abdullah bin Amru radhiyallahu `anhuma menceritakan kepada kami dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bahwa beliau saat memasuki masjid membaca:

أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

"Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dengan wajah-Nya Yang Mulia dan kekuasaan-Nya yang abadi, dari setan yang terkutuk". Uqbah berkata: "Apakah cukup itu saja? Abdullah berkata: "Ya". Abdullah berkata: "Barangsiapa yang membacanya maka setan akan berkata: "Orang ini terlindungi dari gangguanku sepanjang hari ini." [HR. Abu Daud]

➡ Pertahanan Ketigabelas: Membaca doa keluar masjid,

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (إذا دخل أحدكم المسجد فليسلم على النبي صلى الله عليه وسلم وليقل: اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وإذا خرج فليسلم على النبي صلى الله عليه وسلم وليقل: اَللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم). أخرجه ابن ماجه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: "Apabila salah seorang di antara kalian memasuki masjid maka ucapkanlah shalawat kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan ucapkan:

اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“Ya Allah , bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku.”

Dan bila keluar maka ucapkanlah shalawat kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan ucapkan:

اَللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Ya Allah, lindungilah aku dari godaan setan yang terkutuk”.” [HR. Ibnu Majah]

➡ Perlindungan Keempatbelas: Berwudhu dan shalat terutama saat marah atau syahwat sedang membara. Karena wudhu sangat ampuh meredam amarah dan gejolak syahwat.

➡ Perlindungan Kelimabelas: Menaati Allah dan Rasul-Nya, dan menghindari: Banyak bicara, memandang hal yang haram, makan yang banyak dan banyak bergaul.

➡ Pertahanan Keenambelas: Membersihkan rumah dari gambar bernyawa, foto makhluk bernyawa, patung, anjing dan lonceng.

عن أبي هريرة قال : قال رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: (لا تدخل الملائكة بيتا فيه تماثيل أو تصاوير) أخرجه مسلم

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: "Malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat patung atau gambar bernyawa." [HR. Muslim]

عن أبي هريرة قال: قال رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: (لا تصحب الملائكة رفقة؛ فيها كلب أو جرس) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Para malaikat tidak menyertai suatu rombongan yang disertai anjing atau lonceng.” [HR. Muslim]

➡ Pertahanan Ketujuhbelas: Menghindari tempat berdiamnya jin dan setan, yaitu pada reruntuhan rumah dan tempat-tempat najis, seperti: Jamban, tempat pembuangan sampah, dan tempat yang tidak dihuni, seperti: Gurun, tepian pantai yang jauh dari pemukiman, kandang unta dan lain-lain.

📚 [Dinukil dari kitab Mulakhkhos Al-Fiqh Al-Islami karya Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri hafizhahullah]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسل

Read More

Monday, February 27, 2017

TAHUKAH ANDA?


🐪 Sdh tahukah anda bahwa Rasulullah tdk pernah meninggalkan sholat berjamaah, sejak shalat diwajibkan malam isra miraj hingga shalat terakhir dalam hidup beliau?

🐪 Tahukah anda bahwa banyak di antara para ulama yg seumur hidupnya tidak pernah shalat fardhu sendirian dan selalu berjamaah sampai akhir hayat mereka?

🐪 Tahukah anda bahwa diantara mereka ada yg rela walaupun harus membayar orang demi menemani shalat berjamaah?

🐪 Tahukah anda bahwa ada sebagian ulama yg pernah menangis selama 40 hari krn merasa rugi yg amat mendalam sebab tertinggal satu sholat fardhu berjamaah saja?

🐪 Tahukah anda bahwa bila anda shalat berjamaah maka sholat anda dapat dipastikan diterima oleh ​اَللّهُ ?

🐪 Tahukah anda bahwa khusus utk shalat isya dan subuh berjamaah berpahala seperti shalat setengah malam dan semalam suntuk?

🐪 Tahukah anda bahwa org yg shalat subuh berjamaah,  maka dihari itu kehidupannya dibawah perlindungan ​اَللّهُ ? Artinya, bila ada org yg mengusiknya maka dia berurusan langsng dgn ​اَللّهُ ?

🐪 Tahukah anda bahwa krn begitu sakralnya shalat berjamaah sehingga dalam madzhab hanafi difatwakan bahwa hukum shalat berjamaah adalah wajib?
🐪 Tahukah anda bahwa dalam madzhab kita asysyafi'i shalat berjamaah hukumnya fardhu kifayah sehingga bila dalam sebuah perkampungan penduduknya, tdk ada yg shalat berjamaah, maka sekampung itu, berdosa semua krn meninggalkan berjamaah dan bukan karena meninggalkan shalat?

🐪 Tahukah anda bahwa setan akan leluasa berkuasa di sebuah perkampungan, bila penghuninya tdk ada yg sholat berjamaah?
Tahukah anda bahwa dalam suatu hadits, Rasulullah sempat mengancam bahkan Rasulullah gregetan kepada org yg meninggalkan shalat berjamaah hingga berkeinginan membakar rumah mereka?

🐪 Tahukah anda bahwa sahabat Ibnu masud ra,pernah mengatakan "kami saksikan saat Nabi Muhammad masih hidup tidak seorangpun, ada yg  meninggalkan sholat berjamaah kecuali hanya org2 munafik tulen"?

🐪 Tahukah anda bahwa bila anda menyebar info ini maka anda tdk akan rugi atau menjadi hina, malahan, insya ​اَللّهُ  akan berpotensi mendapat kebaikan yg tak terhingga? Smg mendapat hidayah bersama. آمين يا رب العالمين. ...
Semoga bermanfaat.....

Read More

Takut Mati ?

Mengapa Anda takut mati? Apakah mungkin karena Anda tidak tahu bagaimana caranya hidup? Jika Anda tahu bagaimana caranya hidup secara penuh, apakah Anda akan takut mati? Jika Anda mencintai pepohonan, matahari terbenam, burung-burung, dedaunan yang berguguran, jika Anda menyadari manusia yang bergelimang air mata, orang miskin, sungguh-sungguh merasakan cinta di dalam hati Anda, apakah Anda akan takut mati? Begitukah? Jangan terpengaruh oleh saya. Marilah kita merenungkannya bersama-sama. Anda tidak hidup dengan sukacita, Anda tidak berbahagia, Anda tidak peka secara vital terhadap berbagai hal; itukah sebabnya Anda lalu bertanya apa yang akan terjadi bila Anda meninggal? Bagi Anda kehidupan adalah penderitaan, maka Anda lebih berminat kepada kematian. Anda merasa mungkin ada kebahagiaan sesudah mati. Tetapi itu adalah masalah besar, dan saya tidak tahu apakah Anda ingin menyelaminya. Bagaimana pun juga, ketakutan mendasari semua ini—takut mati, takut hidup, takut menderita. Jika Anda tidak dapat memahami apa yang menyebabkan ketakutan dan bebas daripadanya, tidak terlalu penting apakah Anda hidup atau mati.

Read More

AYAT-AYAT MUHKAMAT DAN MUTASYABIHAT


Untuk memahami tema ini sebagaimana mestinya, harus diketahui terlebih dahulu bahwa di dalam Al Qur'an terdapat ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat. Allah ta'ala berfirman :
ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻣِﻨْﻪُ ﺀَﺍﻳَﺎﺕٌ ﻣُﺤْﻜَﻤَﺎﺕٌ ﻫُﻦَّ ﺃُﻡُّ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﺃُﺧَﺮُ ﻣُﺘَﺸَﺎﺑِﻬَﺎﺕٌ ﻓَـﺄَﻣَّﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻓِﻲ ﻗُﻠُﻮْﺑِﻬِﻢْ ﺯَﻳْﻎٌ ﻓَﻴَﺘَّﺒِﻌُﻮْﻥَ ﻣَﺎ ﺗَﺸَﺎﺑَﻪَ ﻣِﻨْﻪُ ﺍﺑْﺘِـﻐَﺎﺀَ ﺍﻟْﻔِـﺘْﻨَﺔِ ﻭَﺍﺑْﺘِـﻐَﺎﺀَ ﺗَﺄْﻭِﻳْﻠِﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺗَﺄْﻭِﻳْـﻠَﻪُ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺍﻟﺮَّﺍﺳِﺨُﻮْﻥَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻳَﻘُﻮْﻟُﻮْﻥَ ﺀَﺍﻣَﻨَّﺎ ﺑِﻪِ ﻛُﻞٌّ ﻣِﻦْ ﻋِﻨْﺪِ ﺭَﺑِّﻨَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺬَّﻛَّﺮُ ﺇِﻻَّ ﺃُﻭْﻟُﻮْﺍ ﺍْﻷَﻟْﺒَﺎﺏِ ﺀﺍﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ : 7
Maknanya : "Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada Muhammad. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat muhkamat, itulah Umm Al Qur'an (yang dikembalikan dan disesuaikan pemaknaan ayat-ayat al Qur'an dengannya) dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya sesuai dengan hawa nafsunya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya (seperti saat tibanya kiamat)  melainkan Allah serta orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan : "kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu berasal dari Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran darinya kecuali orang-orang yang berakal "    (Q.S. Al Imran : 7)
Ayat-ayat Muhkamat : ayat yang dari sisi kebahasaan memiliki satu makna saja dan tidak memungkinkan untuk ditakwil ke makna lain. Atau ayat yang diketahui dengan jelas makna dan maksudnya. Seperti firman Allah :
ﻟَﻴْﺲَ ﻛَﻤِﺜْﻠِﻪِ ﺷَﻰﺀٌ ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺸﻮﺭﻯ : ۱۱
Maknanya: “ Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya) ”. (Q.S. asy-Syura: 11)
ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻟَﻪُ ﻛُﻔُﻮًﺍ ﺃَﺣَﺪٌ ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻹﺧﻼﺹ 4:
Maknanya: “ Dia (Allah) tidak ada satupun yang menyekutui-Nya ”. (Q.S. al Ikhlash : 4)
ﻫَﻞْ ﺗَﻌْﻠَﻢُ ﻟَﻪُ ﺳَﻤِﻴًّﺎ ﺳﻮﺭﺓ ﻣﺮﻳﻢ 65:
Maknanya: “ Allah tidak ada serupa bagi-Nya ”. (Q.S. Maryam : 65)
Ayat-ayat Mutasyabihat : ayat yang belum jelas maknanya. Atau yang memiliki banyak kemungkinan makna dan pemahaman sehingga perlu direnungkan agar diperoleh pemaknaan yang tepat yang sesuai dengan ayat-ayat muhkamat. Seperti firman Allah :
ﺍﻟﺮّﺣْﻤٰﻦُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻌَﺮْﺵِ ﺍﺳْﺘَﻮَﻯ ﺳﻮﺭﺓ ﻃﻪ 5:
ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻳَﺼْﻌَﺪُ ﺍﻟْﻜَﻠِﻢُ ﺍﻟﻄَّـﻴِّﺐُ ﻭَﺍﻟْﻌَﻤَﻞُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺢُ ﻳَﺮْﻓَﻌُﻪُ ﺳﻮﺭﺓ ﻓﺎﻃﺮ 10:
Makna ayat kedua ini adalah bahwa dzikir seperti ucapan ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻّ ﺍﻟﻠﻪ akan naik ke tempat yang dimuliakan oleh Allah, yaitu langit. Dzikir ini juga akan mengangkat amal saleh. Pemaknaan seperti ini sesuai dan selaras dengan ayat muhkamat ﻟَﻴْﺲَ
ﻛَﻤِﺜْﻠِﻪِ ﺷَﻰﺀٌ ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺸﻮﺭﻯ : ۱۱
Jadi penafsiran terhadap ayat-ayat mutasyabihat harus dikembalikan kepada ayat-ayat muhkamat. Ini jika memang berkait dengan ayat-ayat mutasyabihat yang mungkin diketahui oleh para ulama. Sedangkan mutasyabih (hal yang tidak diketahui oleh kita) yang dimaksud dalam ayat
ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺗَﺄْﻭِﻳْـﻠَﻪُ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﺳﻮﺭﺓ ﺀﺍﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ : 7
Menurut bacaan waqaf pada lafzh al Jalalah ﺍﻟﻠﻪ adalah seperti saat kiamat tiba, waktu pasti munculnya Dajjal, dan bukan mutasyabih  yang seperti ayat tentang istiwa' ) Q.S. Thaha : 5). Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda :
" ﺍﻋْﻤَﻠُﻮْﺍ ﺑِﻤُﺤْﻜَﻤِﻪِ ﻭَﺀَﺍﻣِﻨُﻮْﺍ ﺑِﻤُﺘَﺸَﺎﺑِﻬِﻪِ " ﺣﺪﻳﺚ ﺿﻌﻴﻒ ﺿﻌﻔﺎ ﺧﻔﻴﻔﺎ
Maknanya: “ Amalkanlah ayat-ayat muhkamat yang ada dalam Al Qur'an dan berimanlah terhadap yang mutasyabihat
dalam Al Qur'an ". Artinya jangan mengingkari adanya ayat-ayat mutasyabihat ini melainkan percayai adanya dan kembalikan maknanya kepada ayat-ayat yang muhkamat. Hadits ini dla'if dengan kedla'ifan yang ringan.
Seorang ahli hadits, pakar bahasa dan fiqh bermadzhab Hanafi, Murtadla az-Zabidi dalam syarh Ihya' 'Ulum ad-Din yang berjudul Ithaf as-Sadah al Muttaqin mengutip perkataan Abu Nashr al Qusyairi dalam kitab at-Tadzkirah asy-Syarqiyyah :
"Sedang firman Allah : ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺗَﺄْﻭِﻳْـﻠَﻪُ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﺳﻮﺭﺓ ﺀﺍﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ : 7 yang dimaksud adalah waktu tepatnya kiamat tiba, sebab orang-orang musyrik bertanya kepada Nabi shallallahu 'alayhi wasallam tentang kiamat kapan tiba. Jadi mutasyabih
dalam konteks ini mengisyaratkan pada pengetahuan tentang hal-hal yang gaib karena memang tidak ada yang mengetahui peristiwa di masa mendatang dan akhir semua hal kecuali Allah. Karenanya Allah berfirman:
ﻫَﻞْ ﻳَﻨْﻈُﺮُﻭْﻥَ ﺇِﻻَّ ﺗَﺄْﻭِﻳْﻠَﻪُ ﻳَﻮْﻡ ﻳَـﺄْﺗِﻲ ﺗَﺄْﻭِﻳْﻠُﻪُ ﺍﻷﻋﺮﺍﻑ : 53
maksudnya mereka tidak menunggu kecuali datangnya kiamat.
Dengan demikian, bagaimana mungkin seseorang bisa mengatakan (berdalih ayat tersebut) bahwa terdapat dalam kitabullah hal yang tidak ada jalan bagi seorang makhlukpun untuk mengetahuinya serta tidak ada yang mengetahui hal ini kecuali Allah. Bukankah ini termasuk penghinaan terbesar terhadap misi-misi kenabian ?!. Bahwa Nabi tidak mengetahui takwil sifat-sifat Allah yang ada lalu mengajak orang untuk mengetahui hal yang tidak bisa diketahui ?!, bukankah Allah berfirman (tentang al Qur'an) :
ﺑِﻠِﺴَﺎﻥٍ ﻋَﺮَﺑِـﻲٍّ ﻣُﺒِﻴْﻦٍ ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺸﻌﺮﺍﺀ :
195
Maknanya : "Dengan bahasa Arab yang jelas " (Q.S. asy-Syu'ara' : 195)
Berarti kalau menurut logika pendapat mereka ini maka mereka mesti mengatakan bahwa Allah telah berdusta karena mengatakan ﺑِﻠِﺴَﺎﻥٍ ﻋَﺮَﺑِـﻲٍّ ﻣُﺒِﻴْﻦٍ sebab mereka ternyata tidak memahaminya. Jika tidak, lalu di mana letak kebenaran penjelasan ini ?!. Dan jika memang al Qur'an ini berbahasa Arab lalu bagaimana bisa seseorang mengatakan bahwa di dalamnya ada yang tidak diketahui oleh orang Arab padahal al Qur'an berbahasa Arab. Jika demikian halnya apa sebutan yang patut  untuk pendapat yang berujung pada pendustaan terhadap Allah ini !?".
Az-Zabidi selanjutnya mengatakan masih menukil dari al Qusyairi : "Bukankah ada pendapat yang mengatakan bahwa bacaan ayat (tentang takwil) tersebut adalah [ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺗَﺄْﻭِﻳْـﻠَﻪُ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺍﻟﺮَّﺍﺳِﺨُﻮْﻥَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ], seakan Allah menyatakan "orang yang mendalam ilmunya juga mengetahui takwilnya serta beriman kepadanya" karena beriman kepada sesuatu itu hanya dapat terwujud setelah mengetahui sesuatu itu, sedang sesuatu yang tidak diketahui tidak akan mungkin seseorang beriman kepadanya. Karenanya, Ibnu Abbas mengatakan : "Saya termasuk orang-orang yang mendalam ilmunya ".
Ada dua metode untuk memaknai ayat-ayat mutasyabihat yang keduanya sama-sama benar

Pertama : Metode Salaf. Mereka adalah orng-orang yang hidup pada tiga abad hijriyah pertama. Yakni kebanyakan dari mereka mentakwil ayat-ayat mutasyabihat secara global (takwil ijmali ), yaitu dengan mengimaninya serta meyakini bahwa maknanya bukanlah sifat-sifat jism (sesuatu yang memiliki ukuran dan dimensi), tetapi memiliki makna yang layak bagi keagungan dan kemahasucian Allah tanpa menentukan apa makna tersebut. Mereka mengembalikan makna ayat-ayat mutasyabihat tersebut kepada ayat-ayat muhkamat seperti firman Allah :
ﻟَﻴْﺲَ ﻛَﻤِﺜْﻠِﻪِ ﺷَﻰﺀٌ ﴾ ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺸﻮﺭﻯ : ۱۱ )
Maknanya: “ Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya) ”. (Q.S. asy-Syura: 11)
Takwil ijmali ini adalah seperti yang dikatakan oleh imam asy-Syafi'i –semoga Allah meridlainya- :
" ﺀَﺍﻣَﻨْﺖُ ﺑِﻤَﺎ ﺟَﺎﺀَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺮَﺍﺩِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑِﻤَﺎ ﺟَﺎﺀَ ﻋَﻦْ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ r ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺮَﺍﺩِ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ "
"Aku beriman dengan segala yang berasal dari Allah sesuai apa yang dimaksudkan Allah dan beriman dengan segala yang berasal dari Rasulullah r sesuai dengan maksud Rasulullah ", yakni bukan sesuai dengan yang terbayangkan oleh prasangka dan benak manusia yang merupakan sifat-sifat fisik dan benda (makhluk) yang tentunya mustahil bagi Allah.
Selanjutnya, penafian bahwa ulama salaf mentakwil secara terperinci (takwil tafshili) seperti yang diduga oleh sebagian orang tidaklah benar. Terbukti bahwa dalam Shahih al Bukhari, kitab tafsir al Qur'an tertulis :
" ﺳُﻮْﺭَﺓُ ﺍﻟْﻘَﺼَﺺِ ، ﻛُﻞُّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻫَﺎﻟِﻚٌ ﺇِﻻَّ ﻭَﺟْﻬَﻪُ ، ﺇِﻻَّ ﻣُﻠْﻜَﻪُ ﻭَﻳُﻘَﺎﻝَ ﻣَﺎ ﻳُﺘَﻘَﺮَّﺏُ ﺑِﻪِ ﺇِﻟَﻴْﻪِ " ﺍﻫـ .
"Surat al Qashash, ﻛُﻞُّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻫَﺎﻟِﻚٌ ﺇِﻻَّ ﻭَﺟْﻬَﻪُ
(Q.S. al Qashash : 88) yakni kecuali kekuasaan dan pengaturan-Nya terhadap makhluk-Nya atau amal yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada-Nya ". Kekuasaan Allah adalah sifat Allah yang azali (tidak memiliki permulaan) , tidak seperti kekuasaan yang Ia berikan kepada makhluk-Nya. Dalam Shahih al Bukhari juga masih terdapat takwil semacam ini di bagian yang lain seperti dlahik yang terdapat dalam hadits ditakwilkan dengan rahmat-Nya yang khusus (ar-Rahmah al Khashshah ).
Terbukti dengan sahih pula bahwa imam Ahmad yang juga termasuk ulama salaf mentakwil firman Allah :                  [
ﺭَﺑُّﻚَ ﴿ ﻭَﺟَﺎﺀَ secara tafshili (terperinci), ia mengatakan : yakni datang kekuasan-Nya (tanda-tanda kekuasaan-Nya) ". Sanad perkataan imam Ahmad ini disahihkan oleh al Hafizh al Bayhaqi, seorang ahli hadits yang menurut al Hafizh Shalahuddin al 'Ala-i : "Setelah al Bayhaqi dan ad-Daraquthni, belum ada ahli hadits yang menyamai kapasitas keduanya atau mendekati kapasitas keduanya ". Komentar al Bayhaqi terhadap sanad tersebut ada dalam kitabnya Manaqib Ahmad. Sedang komentar al Hafizh Abu Sa'id al 'Ala-i mengenai al Bayhaqi dan ad-Daraquthni  terdapat dalam bukunya al Wasyyu al Mu'lam . Al Hafizh Abu Sa'id al 'Ala-i sendiri menurut al Hafizh Ibnu Hajar : "Dia adalah guru dari para guru kami", beliau hidup pada abad VII Hijriyah.
Banyak di antara para ulama yang menyebutkan dalam karya-karya mereka bahwa imam Ahmad mentakwil secara terperinci (tafshili), di antaranya al Hafizh Abdurrahman ibn al Jawzi yang merupakan salah seorang tokoh besar madzhab Hanbali. Disebut demikian karena beliau banyak mengetahui nash-nash (teks-teks induk) dalam madzhab Hanbali dan keadaan imam Ahmad.
Abu Nashr al Qusyairi juga telah menjelaskan konsekwensi-konsekwensi buruk yang secara logis akan didapat oleh orang yang menolak takwil. Abu Nashr al Qusyairi adalah seorang ulama yang digelari oleh al Hafizh 'Abdurrazzaq ath-Thabsi sebagai imam dari para imam. Ini seperti dikutip oleh al Hafizh Ibnu 'Asakir dalam kitabnya Tabyin Kadzib al Muftari .
Kedua : Metode Khalaf. Mereka mentakwil ayat-ayat mutasyabihat secara terperinci dengan menentukan makna-maknanya sesuai dengan penggunaan kata tersebut dalam bahasa Arab. Seperti halnya ulama Salaf, mereka tidak memahami ayat-ayat tersebut sesuai dengan zhahirnya. Metode ini bisa diambil dan diikuti, terutama ketika dikhawatirkan terjadi goncangan terhadap keyakinan orang awam demi untuk menjaga dan membentengi mereka dari tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Sebagai contoh, firman Allah yang memaki Iblis :
ﻣَﺎ ﻣَﻨَﻌَﻚَ ﺃَﻥْ ﺗَﺴْﺠُﺪَ ﻟِﻤَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖُ ﺑِﻴَﺪَﻱَّ ﴾ ﺳﻮﺭﺓ ﺹ :
75)
Ayat ini boleh ditafsirkan bahwa yang dimaksud dengan al Yadayn adalah al 'Inayah (perhatian khusus) dan al Hifzh (pemeliharaan dan penjagaan).
TAFSIR FIRMAN ALLAH TA'ALA
ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﺍﺳْﺘَﻮَﻯ
Ayat ini wajib ditafsirkan dengan selain bersemayam, duduk dan semacamnya. Bahkan orang yang meyakini demikian hukumnya kafir. Berarti ayat ini tidak boleh diambil secara zhahirnya tetapi harus dipahami dengan makna yang tepat dan dapat diterima oleh akal. Bisa dikatakan bahwa makna lafazh
istiwa' di sini adalah al Qahr , menundukkan dan menguasai. Dalam bahasa Arab dikatakan :
ﺍﺳْﺘَﻮَﻯ ﻓُﻼَﻥٌ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﻤَﺎﻟِﻚِ
Jika dia berhasil menguasai kerajaan, memegang kendali segala urusan dan menundukkan orang, seperti dalam sebuah bait syair :
ﻗَﺪْ ﺍﺳْـﺘَﻮَﻯ ﺑِﺸْﺮٌ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻌِﺮَﺍﻕِ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺳَﻴْﻒٍ ﻭَﺩَﻡٍ ﻣِﻬْﺮَﺍﻕِ
"Bisyr telah menguasai Irak, tanpa senjata dan pertumpahan darah".
Sedangkan faedah disebutkannya 'arsy secara khusus adalah bahwa 'arsy merupakan makhluk Allah yang paling besar bentuk dan ukurannya. Ini berarti tentunya makhluk-makhluk yang lebih kecil dari 'arsy termasuk di dalamnya. Imam Ali mengatakan :
" ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵَ ﺇِﻇْﻬَﺎﺭًﺍ ﻟِﻘُﺪْﺭَﺗِﻪِ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺘَّﺨِﺬْﻩُ ﻣَﻜَﺎﻧًﺎ ﻟِﺬَﺍﺗِﻪِ "
“ Sesungguhnya Allah menciptakan ’arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya ”.  Diriwayatkan oleh Abu Manshur at-Tamimi, seorang imam serta pakar hadits, fiqh dan bahasa dalam kitabnya at-Tabshirah .
Ayat ini juga boleh ditafsirkan bahwa "Allah memiliki sifat istiwa' yang diketahui oleh-Nya, disertai keyakinan bahwa Allah maha suci dari istiwa'-nya makhluk yang bermakna duduk, bersemayam dan semacamnya".
Ketahuilah bahwa harus diwaspadai orang-orang yang menyandangkan sifat duduk dan bersemayam di atas 'arsy. Mereka menafsirkan firman Allah :
ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﺍﺳْﺘَﻮَﻯ
Dengan duduk atau berada di atas 'arsy dengan jarak. Mereka juga mengklaim bahwa tidak masuk akal adanya sesuatu tanpa tempat, ini adalah klaim yang bathil. Mereka mengklaim juga bahwa perkataan ulama salaf : Istawa bila kayf sesuai dengan apa yang mereka katakan. Mereka tidak mengerti bahwa kayf yang dinafikan oleh ulama salaf adalah duduk, bersemayam, berada di suatu tempat, berada di atas sesuatu dengan jarak dan semua sifat makhluk seperti bergerak, diam dan semacamnya.
Al Qusyairi berkata : "argumen yang bisa mematahkan syubhah mereka adalah jika dikatakan : sebelum Allah menciptakan alam atau tempat, apakah Allah ada atau tidak ?! akal yang sehat akan menjawab : ya, Allah ada. Jika demikian halnya maka sekiranya perkataan mereka " tidak masuk akal adanya sesuatu tanpa tempat" adalah benar, hanya ada dua pilihan : pertama, mereka akan mengatakan bahwa tempat, 'arsy dan alam adalah qadim (tidak memiliki permulaan) atau pilihan kedua, Tuhan itu baharu. Inilah ujung dari keyakinan golongan Hasyawiyyah yang bodoh itu, sungguh yang Qadim (Allah) tidaklah baharu (muhdats ) dan yang baharu tidaklah qadim".
Al Qusyairi juga mengatakan dalam at-Tadzkirah asy-Syarqiyyah : "Jika dikatakan : bukankah Allah berfirman
ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﺍﺳْﺘَﻮَﻯ
Maka harus diambil zhahir ayat ini. Kita menjawab : Allah juga berfirman
ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﻌَﻜُﻢْ ﺃَﻳْﻦَ ﻣَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ‏( ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺤﺪﻳﺪ 4: ‏) ﺃَﻻَ ﺇِﻧَّﻪُ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻣُﺤِﻴْﻂٌ ﺳﻮﺭﺓ ﻓﺼّﻠﺖ 54:
Jika kaedahnya seperti yang anda katakan berarti harus diambil juga zhahir kedua ayat ini dan itu berarti Allah berada di atas 'arsy, ada di antara kita, ada bersama kita serta meliputi dan mengelilingi alam dengan Dzat-Nya dalam saat yang sama. Padahal –kata al Qusyairi- dzat yang satu mustahil pada saat yang sama berada di semua tempat. Kemudian –kata al Qusyairi- jika mereka mengatakan : firman Allah ( ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﻌَﻜُﻢْ ) yang dimaksud adalah dengan ilmu-Nya, dan firman Allah ( ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻣُﺤِﻴْﻂٌ ) maksudnya ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Maka kita katakan : jika demikian, maka ( ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﺍﺳْﺘَﻮَﻯ ) berarti qahara , hafizha dan abqa
(menundukkan dan menguasai, memelihara dan menetapkannya)". Maksud al Qusyairi adalah jika mereka di sini mentakwil ayat-ayat Mutasyabihat semacam ini dan tidak memaknainya secara zhahirnya, lalu mengapa mereka mencela orang yang mentakwil ayat
istiwa' dengan qahr , Ini adalah bukti bahwa mereka telah berpendapat tanpa disertai dengan dalil.
Selanjutnya, Al Qusyairi mengatakan : "Seandainya perkataan kami bahwa istawa berarti qahara memberi persangkaan bahwa telah terjadi pertarungan dan awalnya Allah dikalahkan lalu pada akhirnya menundukkan dan mengalahkan lawan-Nya niscaya hal yang sama muncul dari persangkaan terhadap ayat ( ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ : 18 ‏) ‏( ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟﻘَﺎﻫِﺮُ ﻓَﻮْﻕَ ﻋِﺒَﺎﺩِﻩِ )
Sehingga akan dikatakan : Allah sebelum menciptakan hamba-Nya maqhur (dikalahkan), bukankah hamba seluruhnya tidak ada sebelum Allah menciptakan mereka. Justru sebaliknya (lebih parah) jika istiwa' tersebut adalah dengan dzat-Nya akan memberi persangkaan bahwa Allah berubah dari keadaan sebelumnya, yaitu bengkok sebelum istiwa' karena Allah ada sebelum 'arsy diciptakan. Orang yang obyektif akan mengetahui bahwa orang yang mengatakan :
ﺍﻟﻌﺮﺵ ﺑﺎﻟﺮﺏّ ﺍﺳﺘﻮﻯ
"'Arsy sempurna adanya dengan pengadaan-Nya "
Lebih tepat dari perkataan : ﺍﻟﺮﺏّ ﺑﺎﻟﻌﺮﺵ ﺍﺳﺘﻮﻯ
Jadi Allah disifati dengan ketinggian derajat dan keagungan, maha suci dari berada di suatu tempat dan berada di atas sesuatu dengan jarak.
Al Qusyairi berkata : "Telah muncul sekelompok orang bodoh, yang seandainya mereka tidak mendekati orang awam dengan keyakinan rusak seiring daya nalar mereka dan terbayangkan oleh benak mereka aku tidak akan mengotori lembaran-lembaran buku ini dengan menyebut mereka. Mereka mengatakan : Kita memahami ayat dengan mengambil zhahirnya, ayat-ayat yang memberi persangkaan bahwa Allah menyerupai makhluk-Nya atau memiliki bentuk dan ukuran serta anggota badan kita pahami secara zhahirnya. Tidak boleh melakukan takwil terhadap ayat-ayat tersebut. Menurut mereka, mereka berpegangan dengan firman Allah : ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺗَﺄْﻭِﻳْـﻠَﻪُ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ . Demi Allah, mereka ini lebih berbahaya terhadap Islam daripada orang-orang Yahudi, Nashrani, Majusi dan penyembah berhala. Karena kesesatan orang-orang kafir ini jelas, diketahui dan dijauhi oleh semua ummat Islam. Sedangkan orang-orang yang disebut pertama tadi berpenampilan layaknya para ulama dan mengakses kepada orang awam dengan cara yang bisa menarik orang awam agar mengikuti mereka sehingga mereka menyebarkan bid'ah tasybih ini dan menanamkan pada mereka bahwa tuhan yang kita sembah ini memiliki anggota badan, mempunyai sifat naik, turun, bersandar, terlentang, istiwa' dengan dzat-Nya dan datang-pergi dari suatu tempat dan arah ke yang lain. Maka –lanjut al Qusyairi- barangsiapa tertipu oleh penampilan luar mereka akan mempercayai mereka dan membayangkan sesuatu yang dicerna dengan indra dan menyandang sifat-sifat makhluk diyakininya sebagai Allah. Dengan keyakinan semacam ini ia telah jauh tersesat tanpa dia sadari".
Dari penjelasan di atas diketahui bahwa perkataan orang bahwa takwil tidak boleh adalah kebodohan dan ketidaktahuan terhadap yang benar. Perkataan ini terbantah dengan doa Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam untuk Ibnu Abbas :
" ﺍَﻟﻠّﻬُﻢَّ ﻋَﻠِّﻤْﻪُ ﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔَ ﻭَﺗَﺄْﻭِﻳْﻞَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ " ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱّ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﺑﺄﻟﻔﺎﻅ ﻣﺘﻌﺪّﺩﺓ
“ Ya Allah, berilah ia pemahaman tentang agama dan ajarilah ia penafsiran al-Qur'an ” (H.R. al Bukhari, Ibnu Majah dan lainnya dengan redaksi yang berbeda-beda)
Al Hafizh Ibn al Jawzi dalam kitabnya Al Majalis berkata : "Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengabulkan doa Rasulullah ini". Kemudian beliau mengingkari dengan sangat dan mencela dengan pedas orang yang menolak takwil dan menguraikan dengan panjang lebar hal ini. Bagi yang tertarik silahkan membacanya.
Sedangkan firman Allah  ( ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﻨﺤﻞ : 50 ‏) ﴿ ﻳَﺨَﺎﻓُﻮْﻥَ ﺭَﺑَّﻬُﻢْ ﻣِﻦْ ﻓَﻮْﻗِﻬِﻢْ ﴾
maknanya di atas mereka dengan kekuasaan-Nya, bukan dengan tempat dan arah, yakni bukan di atas mereka dari segi tempat dan arah. Firman Allah ((ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﻔﺠﺮ : 22 ﴿ ﻭَﺟَﺎﺀَ ﺭَﺑُّﻚَ ﻭَﺍﻟْﻤَﻠَﻚُ ﺻَﻔًّﺎ ﺻَﻔًّﺎ ﴾ datang yang dinisbatkan kepada Allah ini maknanya bukan datang dengan bergerak, berpindah, mengosongkan suatu tempat dan mengisi tempat yang lain dan kafir hukumnya orang yang meyakini semacam ini bagi Allah. Karena Allah ta'ala yang menciptakan sifat bergerak, diam dan semua sifat makhluk, maka Allah tidak disifati dengan bergerak dan diam. Jadi yang dimaksud dengan ﴿ ﻭَﺟَﺎﺀَ ﺭَﺑُّﻚَ ﴾ adalah datang sesuatu dari Tuhanmu, yakni salah satu tanda kekuasaan-Nya. Inilah takwil yang dikemukakan oleh Imam Ahmad. Diriwayatkan dengan sanad yang sahih bahwa beliau berkata tentang ayat tersebut ﴿ ﻭَﺟَﺎﺀَ ﺭَﺑُّﻚَ ﴾ : yang datang adalah (tanda) kekuasaan-Nya. Takwil ini diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam
Manaqib Ahmad seperti yang sudah pernah disinggung.
TAFSIR FIRMAN ALLAH TA'ALA
﴿ ﻣِﻦْ ﺭُﻭْﺣِﻨَﺎ ﴾ ﴿ ﻣِﻦْ ﺭُﻭْﺣِـﻲْ ﴾
Hendaklah diketahui bahwa Allah
subhanahu wata'ala adalah pencipta roh dan jasad, berarti Ia bukan roh dan bukan jasad. Maka ketika Allah menisbatkan roh Isa kepada dzat-Nya, yang dimaksud adalah Allah memiliki roh Nabi Isa dan memuliakannya. Ini sama sekali tidak berarti bahwa Nabi Isa adalah bagian dari dzat-Nya (al Juz-iyyah ). Hal ini terdapat dalam firman Allah : ( ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ : 91 ‏) ﴿ ﻣِﻦْ ﺭُﻭْﺣِﻨَﺎ ﴾ . Dengan makna yang sama Allah berfirman tentang Nabi Adam
alayhissalam :
( ﺳﻮﺭﺓ ﺹ : 72 ‏) ﴿ ﻣِﻦْ ﺭُﻭْﺣِـﻲْ ﴾ .
Jadi makna firman Allah : ﴿ ﻓَﻨَﻔَﺨْﻨَﺎ ﻓِﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﺭُﻭْﺣِﻨَﺎ ﴾ ‏( ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ : 12 )
adalah : "kami memerintahkan pada Jibril alayhissalam untuk meniupkan ke dalam Maryam roh yang merupakan milik kami dan mulia menurut kami". Karena roh itu terbagi menjadi dua : roh yang dimuliakan dan roh yang jahat. Roh para nabi termasuk dalam kategori pertama. Karenanya penyandaran (idlafah) roh nabi Isa dan roh nabi Adam kepada Allah adalah penyandaran yang berarti kepemilikan dan pemuliaan Allah terhadap keduanya. Hukum orang yang meyakini bahwa Allah ta'ala adalah roh adalah dikafirkan karena roh adalah makhluk dan Allah maha suci dari menyerupai makhluk.
Begitu pula firman Allah mengenai ka'bah : ( ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺤﺞّ : 26 ‏) ﴿ ﺑَﻴْـﺘِﻲَ ﴾ , ini juga penyandaran (idlafah) yang berarti kepemilikan dan pemuliaan Allah terhadap ka'bah, bukan menunjukkan bahwa bayt adalah sifat Allah atau tempat bagi Allah karena persinggungan dan bersentuhan antara Allah dan ka'bah adalah mustahil bagi-Nya.
Demikian juga firman Allah :                                          ( ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻮﻥ : 116 ‏) ﴿ ﺭَﺏُّ ﺍﻟﻌَﺮْﺵِ ﴾ hanyalah menunjukkan bahwa Allah pencipta 'arsy, makhluk Allah yang terbesar ukurannya. Penyandaran ini tidak berarti ada kaitan antara Allah dengan 'arsy bahwa Allah duduk di atasnya atau berada di atasnya dengan jarak. Jadi maknanya bukan bahwa Allah duduk di atas 'arsy dengan menempel, juga bukan berarti Allah berada di atasnya dengan berjarak ruang kosong yang luas atau sempit. Ini semua mustahil bagi Allah. 'Arsy disandarkan kepada Allah karena beberapa keistimewaannya. Di antaranya bahwa 'arsy adalah kiblat para malaikat yang mengelilinginya sebagaimana ka'bah menjadi mulia karena orang-orang mukmin berthawaf mengelilinginya. Di antara keistimewaan 'arsy pula bahwa 'arsy tidak pernah dikotori dengan perbuatan maksiat terhadap Allah karena yang berada di sekelilingnya adalah para malaikat yang mulia, yang tidak pernah berbuat maksiat terhadap Allah sekejappun. Jadi orang yang meyakini bahwa Allah menciptakan 'arsy untuk Ia duduki telah menyerupakan Allah dengan para raja yang membuat ranjang-ranjang besar untuk mereka duduki, dan yang meyakini ini berarti dia belum mengenal Allah. Juga dihukumi kafir orang yang meyakini Allah bersentuhan dengan sesuatu karena hal ini mustahil berlaku bagi Allah.
TAFSIR AL MA'IYYAH BAGI  ALLAH TA'ALA
DI DALAM AL QUR'AN
Makna firman Allah :
) ﻭﻫﻮ ﻣﻌﻜﻢ ﺃﻳﻦ ﻣﺎ ﻛﻨﺘﻢ ‏( ‏( ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺤﺪﻳﺪ 4: )
al ma'iyyah di sini berarti bahwa Allah ilmunya meliputi di manapun seseorang berada. Kadang al ma'iyyah berarti juga pertolongan dan perlindungan Allah seperti dalam ayat
﴿ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻣَﻊَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺍﺗَّﻘَﻮْﺍ ‏[ ‏( ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﻨﺤﻞ 128: )
Al ma'iyyah yang dimaksud dalam ayat-ayat tersebut bukanlah bahwa Allah menempati makhluk-Nya atau menempel. Orang yang meyakini demikian hukumnya kafir karena Allah ta'ala maha suci dari menempel dan berpisah dengan jarak. Karenanya, tidak boleh dikatakan : Allah bersatu atau menempel dengan alam atau berpisah dari alam dengan jarak. Sebab semua ini adalah sifat benda, benda yang bisa disifati dengan menempel dan berpisah. Sedangkan Allah bukan sesuatu yang baharu (makhluk) sebagaimana firman Allah
﴿ ﻟَﻴْﺲَ ﻛَﻤِﺜْﻠِﻪِ ﺷَﻰﺀٌ ﴾ ‏( ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺸﻮﺭﻯ : ۱۱)
Maknanya: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya)”. (Q.S. asy-Syura: 11)
Allah tidak disifati dengan memiliki bentuk dan ukuran besar atau kecil, panjang atau pendek karena Dia berbeda dengan makhluk-Nya. Demikian pula setiap pikiran atau bayangan yang menyandarkan bentuk dan ukuran kepada Allah harus diusir dan dihilangkan dari benak. Jadi ketika kita mengucapkan : Allahu Akbar maknanya adalah bahwa Allah lebih besar dari segi keagungan, derajat, kekuasaan dan kemahatahuan bukan dari segi panjang dan keluasan bentuk dan ukuran. Ini yang dimaksud oleh ulama salaf ketika menyikapi ayat-ayat mutasyabihat dengan mengatakan :
" ﺃَﻣِﺮُّﻭْﻫَﺎ ﻛَﻤَﺎ ﺟَﺎﺀَﺕْ ﺑِﻼَ ﻛَﻴْﻔِﻴَّﺔٍ ".
" Bacalah ayat-ayat tersebut sebagaimana bunyinya tanpa menyifati Allah dengan sifat-sifat makhluk"
Jadi bukan maksudnya bahwa Allah memiliki kaifiyyat tetapi kita tidak mengetahuinya. Dengan demikian tidaklah sesuai dengan ulama salaf orang yang menyatakan berdasarkan pernyataan di atas bahwa istiwa' -nya Allah di atas 'arsy adalah duduk tetapi tidak diketahui bagaimana bentuk duduk-Nya tersebut.
Dahulu, orang-orang Yahudi menyandangkan lelah kepada Allah. Mereka mengatakan : setelah menciptakan langit dan bumi Allah beristirahat dan terlentang. Perkataan mereka ini jelas kekufurannya. Allah maha suci dari ini semua. Ia juga maha suci dari
infi'al seperti merasakan kelelahan, sakit dan merasa enak. Karena yang mengalami keadaan-keadaan semacam ini pastilah makhluk yang selalu mengalami perubahan dan ini mustahil bagi Allah. Allah ta'ala berfirman :
﴿ ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷَﺭْﺽَ ﻭَﻣَﺎ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻤَﺎ ﻓِﻲ ﺳِﺘَّﺔِ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﻭَﻣَﺎ ﻣَﺴَّﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻟُﻐُﻮْﺏٍ ﴾ ‏( ﺳﻮﺭﺓ ﻕ : 38 )
Maknanya : "Kami (Allah) menciptakan langit dan bumi dan yang berada di antara keduanya, dan tidaklah sekali-kali kami mengalami kelelahan " (Q.S. Qaf: 38)
Yang akan merasa kelelahan adalah orang yang melakukan perbuatannya dengan anggota badan, sedangkan Allah maha suci dari memiliki anggota badan.
Allah ta'ala berfirman :
﴿ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤِﻴْﻊُ ﺍﻟْﺒَﺼِﻴْﺮُ ﴾ ‏( ﺳﻮﺭﺓ ﻏﺎﻓﺮ : 20 )
Maknanya : "Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha melihat " (Q.S. Ghafir : 20)
Allah ta'ala mendengar dan melihat bukan seperti melihat dan mendengarnya makhluk. Jadi mendengar dan melihatnya Allah ada dua sifat-Nya yang azali yang bukan merupakan anggota badan, artinya bukan dengan telinga atau kelopak mata, kategori dekat , jauh atau berhubungan dengan arah, tanpa munculnya cahaya dari mata atau berhembusnya udara.
Barang siapa mengatakan Allah memiliki telinga maka ia telah kafir, meskipun dia mengatakan Allah memiliki telinga tetapi tidak seperti telinga kita. Ini berbeda dengan orang yang mengatakan : Allah memiliki 'ayn tetapi tidak seperti mata kita, yad tidak seperti tangan kita, melainkan sebagai sifat-Nya. Yang terakhir ini boleh dikatakan karena lafazh
'ayn dan yad memang terdapat dalam al Qur'an sedangkan lafazh udzun (telinga) tidak pernah disandangkan bagi Allah dalam teks agama.
TAFSIR FIRMAN ALLAH TA'ALA
﴿ ﻓَﺜَﻢَّ ﻭَﺟْﻪُ ﺍﻟﻠﻪِ [
Allah ta'ala berfirman :
﴿ ﻭَِﻟﻠﻪِ ﺍﻟْﻤَﺸْﺮِﻕُ ﻭَﺍﻟْﻤَﻐْﺮِﺏُ ﻓَﺄَﻳْﻨَﻤَﺎ ﺗُﻮَﻟُّﻮْﺍ ﻓَﺜَﻢَّ ﻭَﺟْﻪُ ﺍﻟﻠﻪِ
‏[ ‏( ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : 115 )
Makna ayat ini adalah bahwa kemanapun kalian menghadapkan muka kalian pada shalat sunnah di perjalanan maka di sanalah kiblat Allah. Yakni Arah yang kalian menghadapkan muka kepadanya adalah kiblat kalian. Maksud wajh di sini bukanlah anggota badan muka.
Orang yang meyakini bahwa Allah memiliki anggota badan jelas dikafirkan. Karena seandainya Allah mempunyai anggota badan berarti dia serupa dengan kita, bisa berlaku bagi-Nya hal yang berlaku bagi kita seperti fana' (kepunahan dan kebinasaan).
Terkadang maksud dari wajh adalah melaksanakan sesuatu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sebagai contoh ketika orang mengatakan : saya melakukan perbuatan ini karena wajh
Allah, maka maksudnya adalah bahwa aku melakukannya karena melaksanakan perintah Allah.
Haram hukumnya mengatakan seperti orang-orang bodoh katakan : "Bukalah jendela itu supaya kita dapat melihat muka Allah". Ini dikarenakan Allah ta'ala berfirman kepada nabi Musa
'alayhissalam :
﴿ ﻟَﻦْ ﺗَﺮَﺍﻧِـﻲْ ‏[ ‏( ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻷﻋﺮﺍﻑ : 143 )
Maknanya : "Engkau tidak akan pernah melihat-Ku (dengan mata di dunia ini)" (Q.S. al A'raf : 143)
Meskipun maksud orang yang mengatakan perkataan tersebut bukan melihat Allah tetap dihukumi haram mengatakannya.
TAFSIR FIRMAN ALLAH TA'ALA
﴿ ﺍﻟﻠﻪُ ﻧُﻮْﺭُ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷَﺭْﺽِ [
Firman Allah : ( ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﻨﻮﺭ : 35 ‏) ‏( ﺍﻟﻠﻪُ ﻧُﻮْﺭُ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷَﺭْﺽِ ) maknanya adalah bahwa Allah ta'ala Pemberi petunjuk langit dan bumi kepada cahaya keimanan. Penafsiran ini diriwayatkan oleh al Bayhaqi dari Abdullah ibn 'Abbas. Jadi Allah bukanlah Nur dalam arti cahaya karena Ia yang menciptakan cahaya. Allah ta'ala berfirman :
) ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻈﻠﻤﺎﺕ ﻭﺍﻟﻨﻮﺭ ‏( ‏( ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ : 1 )
Maknanya : "dan Ia menciptakan kegelapan dan cahaya"   (Q.S. al An'am : 1)
Jadi Allah yang menciptakan kegelapan dan cahaya, bagaimana mungkin ia adalah cahaya seperti halnya makhluk-Nya ?!, maha suci Allah dari hal ini.
Hukum orang yang meyakini bahwa Allah adalah cahaya adalah dikafirkan. Ayat pertama surat al An'am tersebut yang berbunyi :
) ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ِﻟﻠﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷَﺭْﺽَ ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ ﻭَﺍﻟﻨُّﻮْﺭَ ‏( ‏( ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ : 1 )
adalah dalil paling jelas yang menegaskan bahwa Allah bukan jism (sesuatu yang memiliki bentuk dan ukuran) katsif (yang bisa dipegang dengan tangan) seperti langit dan bumi dan bukan jism lathif (yang tidak bisa dipegang dengan tangan) seperti kegelapan dan cahaya. Maka barang siapa meyakini bahwa Allah adalah benda katsif atau lathif berarti ia telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Ayat ini adalah dalil yang menunjukkan kepada hal itu. Kebanyakan kalangan Musyabbihah (golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya) meyakini bahwa Allah adalah benda
katsif . Sebagian dari mereka meyakini bahwa Allah adalah benda lathif seperti perkataan mereka bahwa Allah adalah cahaya yang gemerlapan. Ayat ini saja cukup sebagai bantahan terhadap kedua kelompok Musyabbihah tersebut.
Dan masih banyak lagi keyakinan-keyakinan kufur yang lain seperti keyakinan sebagian orang bahwa Allah ta'ala memiliki warna atau bentuk. Karenanya seseorang hendaklah menjauhi keyakinan-keyakinan tersebut sekuat tenaga dan bagaimanapun keadaannya.
Wallahu a'lam. Bissauwaf.

Read More
Powered by Blogger.