1. Al-Quran merekam sejarah dua tokoh sejarah yang pernah “pamer” kekayaan. Pertama, Nabi Sulaiman di hadapan Ratu negeri Saba’, Balqis. Satunya lagi Qarun di hadapan masyarakatnya.
2. Dalam surat An-Naml mulai ayat 31, Nabi Sulaiman berdakwah kepada Ratu Saba’ sembari menyelipkan pesan: _alla ta’lu alayya wa’tuuni muslimiin._
3. Kamu jangan sombong, jangan merasa kepalamu lebih besar melebihi ajakanku kepadamu untuk masuk Islam.
4. Wajar, karena Nabi Sulaiman adalah nabi sekaligus raja super kaya. Semua makhluk tunduk kepadanya tak terkecuali bangsa jin.
5. Nabi Sulaiman kembali bersikap tegas, manakala Balqis hendak “menyuap” dengan kekayaan. “Apakah kamu hendak mengiming-imingi aku dengan kekayaanmu, padahal Allah telah memberikan yang lebih baik daripada itu semua.”
6. Tidak tanggung-tanggung. Saat Balqis hendak mengadakan kunjungan kenegaraan, Sulaiman juga mempertontonkan kemampuannya mendatangkan singgasana Balqis dalam waktu sekejap.
7. Saat bertemu Sulaiman, Balqis tak habis pikir. Bagaimana singgasana miliknya kini sudah ada di istana Sulaiman. Padahal saat itu belum ada pesawat Boeing sebagaimana yang digunakan Raja Salman untuk memindahkan singgasananya dari Saudi selama berlibur ke Indonesia.
8. Lalu ketika masuk istana berlantai kaca, Balqis sempat mengiranya sebagai kolam air tanpa atap. Ia angkat pakaiannya, takut basah dan kebanjiran.
9. Bertubi-tubi dipameri kekayaan dan kedigdayaan Sulaiman, akhirnya Balqis takluk. Di hadapan Nabi Sulaiman ia menyatakan masuk Islam.
10. Begitulah cara Nabi Sulaiman mendakwahi raja yang merasa diri kaya-raya dan memliki segalanya. Dipameri kekayaan dan harta yang lebih, membuat obyek dakwah takluk. Jurus Nabi Sulaiman tepat dan efektif.
11. Kisah kedua tentang orang kaya raya juga, tapi kekayaannya membuatnya sial. Namanya Qarun, hidup di zaman Nabi Musa (QS Al-Qashash: 76-82)
12. Saat dinasehati agar jangan sombong, ia malah mengaku semua kekayaan didapat atas hasil jerih-payah dan kepandaiannya sendiri. Tidak mengakui nikmat itu dari Allah.
13. Suatu hari ia mengadakan pawai di hadapan kaumnya. Sebagai gambaran betapa kaya si Qarun ini, anak-anak kunci gudang tempat dia menyimpan harta saja sampai terasa berat meski sudah dipikul sekelompok pegawainya. Bayangkan sendiri berapa banyak hartanya.
14. Melihat parade kekayaan ini, banyak orang berkhayal. “Duh, kapan ya saya bisa kaya seperti Qarun.” Makin banyak yang berdecak kagum, makin sombong Qarun. Hingga akhirnya...
15. Tiba-tiba saja ada kejadian alam luar biasa. Parade pamer kekayaan itu lenyap ditelan bumi. Harta Qarun habis dilumat tanah.
16. Saking legendarisnya kisah tersebut, kalau ada orang nemu harta dari galian tanah atau tempat tersembunyi, disebut harta-karun.
17. Sekarang mari kembali ke zaman kita hari ini. Tadi Rabu (1/3/2017) kita kedatangan tamu luar biasa, yaitu Raja Salman dari Arab Saudi.
18. Kedatangannya cukup spektakuler karena terkait dengan kekayaan yang ia dan negeri Saudi miliki.
19. Investasi hampir Rp. 100 T, setelah sebelumnya Rp. 93,5 T dibenamkan di Malaysia. Eskalator mewah, TV dan barang-barang pribadi yang didatangkan langsung dari Saudi.
20. Termasuk singgasana raja. Bedanya dengan era Nabi Sulaiman, yang mendatangkan singgasana raja Salman adalah dia sendiri, bukan Pak Jokowi selaku tuan rumah.
21. Belum lagi soal hotel dan pantai di Bali yang dibooking habis untuk raja dan rombongannya yang semua berjumlah 1500 orang!
22. Hal lain yang membuat kunjungan ini spektakuler adalah sentimen anti-China dan kekecewaan publik, khususnya umat Islam terhadap pemerintahan Jokowi yang selama ini dinilai mabok kepayang sama Cina.
23. Betapa bahwa investasi Saudi ini (kalau jadi) selain lebih besar juga lebih bijak karena tidak mendikte macam Cina. Gambaran mudahnya, Saudi cuma kasih duit. Gak mensyaratkan pemborong dan pekerjanya harus berasal dari Arab.
24. Selain itu, kunjungan ini makin heboh karena di negeri ini banyak propagandis-propagandis anti Arab yang aktif menggencarkan kampanye anti terhadap nilai-nilai Islam.
25. “Budaya kolot ala onta,” “Pergi sana ke Arab!” dan stereotip miring lainnya terhadap Arab yang sebenarnya ditunjukan kepada Islam. Arab cuma jadi alamat perantara saja.
26. Akumulasi dari semua itu, banyak kaum Muslimin yang mengelu-elukan kehadiran Raja Salman dan rombongannya. Sebatas kebanggaan terhadap sesama saudara seiman sih, wajar-wajar saja.
27. Yang menjadi masalah adalah glorifikasi yang di luar batas. Isu menghijaukan Jakarta dan Bali dengan bendera Saudi... bertemu Habib Rizieq karena sang Raja tahu tokoh umat Islam di Indonesia itu sedang dizalimi rezim penguasa, dan seterusnya.
28. Kita tentu boleh saja berbahagia dengan kedatangan tamu muslim. Apalagi nilai investasi yang dibawa cukup untuk membungkam mulut-mulut yang selama ini menjadikan anti-Arab sebagai _proxy_ kampanye anti-Islam-nya.
29. Namun kita harus tetap realistis dan menyadari bahwa kaki kita masih menjejak tanah, belum bisa terbang ke awang-awang.
30. Kita perlu meyakini bahwa kunjungan dengan segepok uang investasi triliunan itu adalah dalam rangka kerjasama yang saling menguntungkan. Indonesia untung, Saudi tak mau rugi.
31. Harga minyak yang merosot juga bisa menjadi alasan Saudi memindah sebagian investasinya ke negara lain seperti Indonesia dan Malaysia, di samping membangun kerjasama multi-bidang.
32. Seperti: keamanan, _Islamic affair,_ kesehatan, kebudayaan, pendidikan, perdagangan UMKM, pertanian, perikanan, dan penerbangan sipil.
33. Adapun soal isu pembelaan terhadap Islam yang sedang terluka di Indonesia, belum ada pernyataan resmi.
34. Saat ditanya tentang Aksi Bela Islam, Dubes Saudi mengatakan itu adalah masalah internal Indonesia dan tidak akan ikut campur mengenai hal itu.
35. Dan kita pun juga harus catat, bahwa kunjungan Raja Saudi kali ini untuk membawa hadiah haji bagi keluarga Densus 88—sebuah institusi mirip monster yang di antara taring-taringnya masih terselip cuilan daging dan tetesan darah aktivis Islam.
36. Selanjutnya, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap gaya hidup mewah sang Raja dan para rombongannya. Memang itu gaya hidup yang menjadi hak tamu dan siapapun yang mampu.
37. Yang menjadi masalah adalah, Raja dan rombongan yang hendak berlibur secara mewah dan mahal, namun kita mengaggap itu sebagai unjuk kekuatan sebagaimana Nabi Sulaiman melakukannya kepada Ratu Balqis.
38. Atas nama solidaritas dan ukhuwah Islamiyah, kita pun berhak prihatin dengan gaya hidup mewah yang dipertontonkan di negeri yang kaum Musliminnya masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan.
39. Pun, masih ada darah dan air mata kaum Muslimin yang tertumpah di Suriah, Palestina, Myanmar dan seantero bumi lainnya.
40. Benar, hak tetaplah hak. Dan okelah, abaikan soal Suriah dan lainnya bila kita mulai melupakannya. Tapi _mbok ya_ jangan juga memberikan glorifikasi secara berlebih.
41. Kita boleh saja berharap dengan segenap keagungan dan kekuasaan-Nya, Allah menjadikan kunjungan ini memiliki dampak sebagaimana kunjungan Balqis ke Sulaiman.
42. Harapannya, ada yang kemudian sadar lalu menjadi pembela Islam. Namanya saja juga berharap.... apa salahnya.
43. Namun yang harus dicatat oleh penonton seperti kita, melihat limpahan triliun investasi dan potret gelimang mewah sang Raja dan rombongannya, jangan sampai terpukau dan melongo sebagaimana sekelompok orang yang menyaksikan parade kekayaan Qarun.
44. Jangan gagal fokus ngerumpiin eskalator dan mobil supermewah, hotel dan pantai yang habis dibooking dan hal-hal duniawi lainnya. Fokuslah kepada dampak kunjungan ini terhadap Islam dan kaum Muslimin di Indonesia.
45. Jangan sampai kemudian kita merasa semua PR kita selesai dengan harta yang dibawa sang Raja itu. Orang yang merasa PR selesai biasanya akan lengah.
46. Ingatlah, kita adalah umat Nabi Muhammad SAW. Nabi yang mengajarkan kesederhanaan dan kesetiakawanan.
47. Nabi yang menjadikan harta “hanya” sebagai salah satu bahan bakar perjuangan memenangkan Islam, bersanding dengan bahan bakar lain berupa jiwa dan raga.
48. Nabi yang pasukannya pernah ditegur oleh Allah dalam perang Hunain. Saat itu, pasukan Muslimin membangga-banggakan kekuatan materiil yang mereka miliki, berupa jumlah personal yang banyak. Mereka lupa bergantung kepada kebesaran Allah.
49. Terakhir, mari kita berdoa kepada Allah semoga kunjungan raja Salman ini menjadikan sebab kebaikan bagi kaum Muslimin di Indonesia khususnya, dan kaum Muslimin di seluruh dunia pada umumnya.
50. Dan menjadikan kita terhindar dari nasib kaum yang tertipu oleh pesona harta Qarun, juga tertipu oleh jumlah dan kekuatan materi semata sebagaimana tragedi Perang Hunain. _Hasbunallah wa nikmal wakiil._
*Syuhaib El-Fata*
Griya Mangkongkik 95.
0 comments:
Post a Comment