Kompilasi tentang islam

Saturday, November 19, 2016

Berzikir kepada Allah

" Jangan kau meninggalkan zikir (mengingat Allah) hanya kerana ketidakhadiran hatimu di hadapan Allah saat berzikir! Kelalaianmu dari zikir kepada-Nya lebih buruk daripada kelalaian hatimu di saat zikir kepada-Nya. Semoga Allah berkenan mengangkatmu dari zikir yang disertai kelalaian menuju zikir yang disertai kesadaran; dari zikir hati, yang disertai hadirnya hati menuju zikir yang mengabaikan selain yang diingat (Allah). “ Dan yang demikian itu bagi Allah tidaklah sukar ”(Qs. Ibrahim: 20)

[ Syeikh Ibnu Atho’illah As-Sakandari رضى الله عنه  ]

Inilah tangga bertingkat dalam amal manusia, bahwa amalan itu terlihat zahir dan sampai terasa hingga ke batin. Dalam melakukan amalan, seseorang akan bertingkat-tingkat rasanya meskipun amalannya sama. Jika orang awam yang melakukannya, berbeda nilainya dengan seorang 'alim yang melakukannya. Dan di situlah kelebihan bagi orang-orang yang berilmu.

Namun, bukan berarti dengan tidak bisanya kita mencapai tingkatan amal yang bernilai dengan apa yang dilakukan orang alim, kita tidak melakukan amalan tersebut. Memang hakikat itu penting, tapi menuju pada tingkat hakikat itu perlu dilewatinya tangga syari’at. Seperti ungkapan yang sering kita dengar, “ Syari’at tanpa hakikat adalah buta, hakikat tanpa syari’at adalah sesat ”. Seorang melakukan amalan seharusnya mengetahui apa sebenarnya hakikat dari apa yang ia kerjakan. Kerana jika tidak ia mengetahui akan hakikat dari apa yang ia kerjakan, maka tidak akan ada perubahan dari apa yang ia kerjakan. Juga dengan sudahnya kita mengetahui hakikat dari sebuah amal, bukan berarti kita meninggalkan syari’at, kerana sejatinya semua perintah-perintah itu berupa syari’at yang harus dikerjakan tanpa menyinggung langsung hakikatnya. Sedangkan hakekat itu adalah olah rasa dan ilmu dari inti amalan-amalan yang dikerjakan.

Ibnu Atho’illah telah mengingatkan kepada para muridnya, bahwa zikir yang intinya mengingat Allah dengan hati yang sadar adalah penting. Namun jangan meninggalkan zikir meskipun belum bisa diri kita menghadirkan hati-hati kita dalam setiap zikir tersebut. Melalaikan zikir lebih buruk daripada tidaknya kita menghadirkan hati dalam zikir, meskipun inti zikir adalah menghadirkan hati untuk mengingat Allah. Ibnu Atho’illah mengingatkan pentingnya tetap melakukan syari’at  meskipun hati belum bisa hadir, kerana dengan tetap melakukan zikir-zikir tersebut, hati ini sedikit demi sedikit akan dibawa menuju tangga hakikat. Sehingga sang alim berkata dari zikir hati, yang disertai hadirnya hati menuju zikir yang mengabaikan selain yang diingat (Allah).

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.